Pencucian Uang Rp10 Miliar, Mafia Tanah Dituntut 15 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar

Terdakwa tindak pidana pencucian uang hasil penipuan jual beli tanah kawasan wisata H Zainudin alias H Zen mengikuti persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan pidana di Pengadilan Negeri Mataram.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Terdakwa tindak pidana pencucian uang H Zainudin alias H Zen dituntut penjara selama 15 tahun. Jaksa penuntut umum meyakini mantan terpidana kasus penipuan ini melakukan pencucian senilai Rp10 miliar. Uang hasi penipuan jual beli tanah kawasan wisata ini dipakai lagi untuk membeli tanah, menafkahi istri, dan memberi orang lain pinjaman dengan jaminan sertifikat tanah.

Jaksa penuntut umum Feddy Hantyo Nugroho menuntut hakim dengan pembuktian dakwaan pasal  3 UU RI No 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Tuntutan pidana ini dibacakan dalam sidang di Pengadilan Negeri Mataram di hadapan ketua majelis hakim R Hendra.

Iklan

“Menuntut majelis hakim menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa H. Zaenudin als Mamiq Zen selama 15 tahun,” ujarnya, Jumat, 24 September 2021. H Zen juga dituntut untuk membayar denda Rp1 miliar yang apabila tidak dibayar maka harus diganti dengan kurungan selama enam bulan. Tuntutan ini diajukan dengan dasar terdakwa H Zen terbukti menggunakan uang hasil pidana penipuan. Antara lain untuk membeli tanah, membayar fee penjualan tanah kepada pihak ketiga, membelikan istrinya emas, membiayai kegiatan partai, membeli barang elektronik, membayar uang muka pembelian dan pelunasan enam bidang tanah, dan memberi orang lain pinjaman dengan jaminan sertifikat tanah.

“Kami juga menuntut agar terdakwa mengembalikan dan menyerahkan aset-aset yang dibeli dari hasil pencucian yang kepada korban Andry Setiadi Karyadi karena kami menanggap terdakwa tidak pernah melakukan pengembalian uang ataupun lainnya,” sebut Feddy. Antara lain tanah hak milik seluas 1,4 hektare di kawasan Pantai Surga, Jerowaru, Lombok Timur; tanah hak milik di Buwun Mas, Sekotong Lombok Barat diantaranya seluas 1,6 hektare; 1,98 hektare; 1,99 hektare; 1,18 hektare; 0,52 hektare1,64 hektare; dan 10 hektare; dan di tanah hak milik di Prapen, Lombok Tengah.

“Ada beberapa yang sudah dikuasai dan balik nama sertifikat. Tanah yang di Sekotong ini adalah jaminan yang diberikan kepada korban atas perjanjian jual beli tanah yang ternyata milik PT GWS itu. Sementara sertifikat lain belum ditindaklanjuti karena tidak lengkap persyaratan akta jual belinya,” jelas Feddy. Sertifikat yang sudah balik nama atas nama korban Andre antara lain di Praya Timur, Lombok Tengah seluas 1,21 hektare; 1,23 hektare; 0,3 hektare; di Keruak, Jerowaru, Lombok Timur seluas 1,4 hektare sebanyak tiga bidang tanah; dan 1,54 hektare sebanyak dua bidang tanah.

Tindak pidana pencucian uang ini berawal dari terbuktinya pidana penipuan yang dilakukan H Zen. Pencucian uang dilakukan antara tahun 2011 sampai tahun 2014 dengan menarik tunai dan debet dengan total transaksi Rp15,36 miliar. Uang berasal dari hasil menipu Andre Setiady Karyadi dalam jual beli tanah seluas 5,5 hektare di Pandanan, Sekotong Barat, Sekotong, Lombok Barat.

Tanah yang dijual itu ternyata milik PT Graha Witasantika dengan bukti SHGB No40/Sekotong Barat. Dalam kasus penipuannya, pada pengadilan tingkat pertama, H Zen divonis penjara tiga tahun enam bulan. Di tingkat banding menjadi dua tahun enam bulan. Sampai di tingkat kasasi menjadi tiga tahun penjara. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional