Pencairan Dana Huntap Rp1,1 Triliun Tahap Dua Terhambat

Huntap jenis Risha di Lombok Barat  yang belum bisa dilakukan finishing karena anggaran tahap dua belum bisa dicairkan. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Pekerjaan pembangunan rumah tetap (Huntap) terus dihadapkan kendala dalam tiap tahapan. Setelah tahap pertama berangsur selesai, ketika beranjak pada tahap pencairan ke dua, fasilitator menghadapi kendala realisasi. Pasalnya, realisasi harus serentak dengan bangunan lain.

Pencairan tahap kedua ini menjadi salah satu dari sejumlah kendala dihadapi Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) penanganan gempa Lombok – Sumbawa bersama Kementerian PUPR.  ‘’Proses pencairan tahap kedua ini terlambat. Ini cukup mengganggu. Tahap kedua ini nilainya sekitar Rp 1,1 triliun,’’ sebut Dansatgas RR Kol. Inf. Farid Makruf, MA ditemui Suara NTB di Lapangan Yonif 742/SWY, Kamis, 27 Desember 2018.

Iklan

Situasi itu terjadi di lapangan dalam proses pembangunan Huntap jenis rumah instan sederhana sehat  (Risha) dan rumah instan konvensional (Riko). Dicontohkan Farid Makruf, pekerjaan Pokmas sebenarnya sudah tuntas sampai pembangunan panel Risha, dinding dan jendela untuk tahap pertama. Ketika masuk tahap kedua pemasangan atap, dana belum juga masuk ke rekening Pokmas.

Alasan PUPR, harus menunggu penyelesaian pembangunan rumah lain dalam satu kelompok. Ketika kondisinya sudah sama-sama tuntas tahap satu, baru bersamaan diajukan tahap kedua. Proses ini sebenarnya menurut Farid sangat menghambat. Hemat dia, pencairan bisa dilakukan sesuai progres.  ‘’Artinya, mana rumah yang sudah jadi tahap pertama, beri langsung anggarannya. Supaya lebih cepat jadi dan masyarakat cepat menempati,’’ kata mantan Danrem.

Sejauh ini data Huntap yang sudah terbangun pun belum signifikan. Namun demikian tetap ada progresnya.  Untuk jenis Risha,  tuntas dibangun  sebanyak  109 unit, dari total peminat  7.535 KK dan sedang dalam proses pembangunan  1.620 Unit. Sedangkan jenis Riko selesai dibangun 31 Unit dari total peminat  7.124 KK dan sedang dalam proses pembangunan  951 unit. Sementara Huntap jenis Rika peminat  3.808 KK, selesai dibangun 79 unit dan yang sedang dibangun menjadi 533 unit.

Farid Makruf juga membeberkan kendala lain penghambat percepatan Huntap.  Seperti hasil vertifikasi masih banyak masyarakat yang belum menerima rekening untuk pencairan dana Pokmas. Sehingga ia mendorong bupati dan walikota serta pihak terkait lainnya untuk bekerja lebih maksimal mempercepat proses verifikasi, sehingga rekening Pokmas  segera terisi.

Hal lain, jumlah kerusakan rumah dengan Huntap yang dibangun masih jauh dari harapan. Salah satu hambatannya, jumlah aplikator penyedia panel dan bahan lainnya masih sangat kurang. Bisa dibayangkan, ungkap Farid, jumlah Huntap yang harus dibangun mencapai 32.000 lebih. Sementara aplikator yang menyediakan bahan bangunan hanya 24 aplikator. Itu pun hanya bisa memproduksi satu sampai lima unit bahan Huntap per hari.

Masih soal temuan lapangan, banyak masyarakat korban gempa yang sudah dibangunkan Huntap oleh kalangan swasta atau lembaga lainnya. Ketika akan turun program Huntap, masyarakat menolak namun meminta dalam bentuk uang tunai. Sementara dalam  juklak juknis, harus dalam bentuk rumah.

Sejumlah kendala itu adalah fakta yang ditemukan di lapangan oleh Satgas bersama PUPR.  Namun sejalan dengan tugas, terus berusaha diatasi bersama dengan PUPR dan para fasilitator hingga pokmas.

Ada empat sasaran disampaikannya dalam laporan harian Kamis kemarin.

Pertama, agar tiap aplikator selain penyiapan stok panel, harus dibarengi penyiapan stok baut, mur dan plat panelnya.  Kedua, agar fasilitator di Pokmas Dusun Karang Panasan, Desa Tanjung, Kecamatan  Tanjung tidak menerima panel yang tidak sesuai atau retak yang akan didistribusikan ke Pokmas. Ketiga, agar BPBD di tiap wilayah segera mencairkan dana tahap dua 100 persen ke rekening Pokmas, sehingga pekerjaan lanjutan pembangunan tidak terhambat. Keempat, agar fasilitator dan perangkat desa di tiap wilayah terdampak menyegerakan kegiatan verifikasi data yang belum valid. (ars)