Pencabutan Subsidi Listrik Memicu Inflasi

Mataram (Suara NTB) – Pencabutan subsidi listik sebagai kebijakan pemerintah yang dilaksanakan oleh PLN, patut diwaspadai sebab akan berdampak langsung kepada inflasi. Apalagi di NTB, terdapat sebanyak 375.798 pelanggan listrik berdaya 900 Volt Ampere (VA) subsidinya dicabut.

Pencabutan subsini ini, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Endang Tri Wahyuningsih di kantornya, Senin, 15 Mei 2017 menegaskan, pencabutan subsidi listrik, pun akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Meskipun dampaknya tak secara langsung.

Iklan

Dipaparkan bahwa umumnya  kenaikan harga identik dengan inflasi. Naik turunnya inflasi menjadi suatu peristiwa penting dalam fenomena ekonomi.  Meskipun secara umum inflasi berarti terdapat kenaikan harga, namun  inflasi juga diperlukan sebagai salah satu stimulus agar  perekonomian  bisa tumbuh.

Namun di sisi lain berdampak pada merosotnya daya beli ketika pendapatan masyarakat tidak meningkat. Untuk itu inflasi perlu dijaga agar tidak sampai mengganggu kehidupan sosial masyarakat secara umum. Para ekonom menekankan bahwa inflasi merupakan  proses, oleh sebab  itu diperlukan suatu mekanisme untuk menekan inflasi agar dapat  memberikan imbas yang positif  terhadap perekonomian.

Hingga triwulan I-2017 inflasi umum  triwulanan di Provinsi NTB tampak  terkendali dan berada pada kisaran kurang dari 2 persen setiap triwulan. Hal ini tentu saja menggembirakan dan mengindikasikan bahwa walaupun terjadi penurunan, perekonomian di Provinsi NTB berjalan cukup baik.

Pada triwulan I-2017 bahan makanan justru mengalami deflasi yang cukup dalam (-2,39).  komoditas pendidikan, rekreasi dan olah raga juga mengalami deflasi namun tipis (-0,13). Tiga komoditas yaitu  perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar  dan komoditas sandang, dan komoditas transportasi, komunikasi dan jasa keuangan  mengalami inflasi di atas 2 persen pada Triwulan I-2017.

Sementara petani di Provinsi NTB sedikit mengalami surplus pada triwulan I-2017, namun jika dibandingkan dengan triwulan IV-2016 surplus yang diperoleh petani cenderung lebih sedikit. Jika inflasi umum mencerminkan inflasi di daerah perkotaan, maka laju pertumbuhan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang merupakan salah satu komponen untuk menghitung NTP, menjadi  indikator inflasi di daerah perdesaan.

Laju pertumbuhan IKRT triwulanan cenderung memiliki pola mengikuti laju inflasi perkotaan, bahkan pada triwulan I-2016 dan triwulan III-2016 hampir berhimpitan.Pada triwulan II-2016 dan triwulan IV-2016laju pertubuhan IKRT sedikit lebih tinggi dari inflasi perkotaan.

Jika dibandingkan dengan triwulan I-2016, laju pertumbuhan IKRT justru lebih rendah pada kondisi triwulan I-2017 ini. Kondisi ini merupakan indikasi bahwa harga di pedesaan pada triwulan I-2017 selain lebih rendah dari harga di perkotaan, juga lebih rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here