Penataan Kawasan ‘’Bike Park’’ Internasional, Sebagian Warga Enggan Direlokasi ke Luar Kampung

Camat Batulayar Syahrudin

Giri Menang (Suara NTB) – Sebagian warga di bantaran sungai menuju kawasan Bike Park (Taman Bersepeda) Meninting Kecamatan Batulayar Lombok Barat (Lobrsa) masih enggan direlokasi. Mereka mau direlokasi dengan catatan tetap di daerah itu dan mereka tidak mau kalau direlokasi ke luar daerah tersebut.

Pihak Pemda dan kecamatan pun sudah mempersiapkan langkah untuk relokasi warga, salah satunya mencari lahan di sekitar kampung sebagai tempat relokasi rumah warga.

Iklan

Camat Batulayar Syahrudin mengatakan sejak lama pihaknya sudah ditugaskan oleh bupati untuk membahas soal reloksi warga. Hasil pembahasan dengan desa dan warga, bahwa mereka tidak mau direlokasi keluar dari kampung itu. “Mau mereka direlokasi tapi tetap di daerah itu, mereka tidak mau  kalau keluar kampung itu,” terangnya, Jumat, 7 Agustus 2020.

Pihaknya pun sudah memiliki strategi yang dilakukan dalam mencari solusi relokasi ini. Salah satunya  pihaknya sudah mencari lahan untuk relokasi mereka. Pihaknya pun sudah melaporkan hal ini ke Bupati, bahwa ada lahan warga seluas 80 are dan 15-20 are di sekitar daerah itu yang bisa menjadi pilihan dibeli pemda untuk ditukar dengan lahan perkampungan warga.

Setelah selesai masalah lahan ini, barulah pihaknya membahas relokasi dengan warga. Kampung yang direlokasi ini nantinya, ditata oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) agar jangan sampai kawasan kampung ini nantinya kumuh. Sekaligus kawasan ini menjadi kampung wisata kuliner untuk menunjang kawasan Meninting. Dengan adanya Bike Park mau tidak mau kawasan ini menjadi terintegrasi.

Salah satu upaya mengintegrasikannya jelas dia, pihaknya akan rapat dengan Bupati, Dinas PUPR, Kepala Desa Meninting serta tokoh masyarakat agar lahan wakaf di kawasan pinggir pantai (view pantai) bisa ditukar guling dengan tanah yang diinginkan oleh desa. “Ini  menindaklanjuti hasil rapat dengan pak bupati kaitan dengan konsep penataan kawasan terintegrasi,” jelas dia.

Setelah itu, kata dia, barulah pihaknya  bicara dengan pemilik lahan terkait pembelian lahan ataukah tukar guling lahan sekaligus relokasi warga.

Kalau sudah ada titik temu, barulah pihaknya  membahas rencana relokasi ini dengan warga. Jumlah warga yang direlokasi ini sendiri sekitar 15-20 KK yang ada di bantaran sungai. Untuk lahan relokasi ini, butuh lahan seluas 80 are. Itupun, kata dia, lengkap untuk fasilitas publik, seperti jalan kampung. (her)      

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here