Penanganan Pasien Covid Terkendala Oksigen Limit

H. L. Bahrudin. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Kecenderungan angka kasus positif Covid di daerah cukup mengkhawatirkan. Terlebih lagi, penanganan pasien positif di kabupaten terkendala prasarana pendukung, seperti limitnya pasokan oksigen dari distributor.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Utara, dr. H. Lalu Bahrudin, kepada Suara NTB, Minggu, 1 Agustus 2021 mengakui, keterbatasan oksigen di fasilitasi kesehatan berlaku pula di Lombok Utara. Dalam penanganan pasien Covid dan pasien umum yang membutuhkan oksigen, tidak jarang jatah oksigen di Puskesmas diangkut ke RSUD KLU.

Iklan

“Oksigen di Puskesmas banyak disumbangkan ke rumah sakit untuk penanganan pasien Covid. Memang oksigen kita limit, bukan tidak ada,” ucap Bahrudin.

Ia menjelaskan, pasokan oksigen untuk faskes (Puskesmas dan RSUD) di daerah-daerah di NTB diadakan lewat jalur pengadaan. Telah disepakati, pasokan oksigen di NTB dilakukan melalui dua distributor, yakni PT. Samator dan PT. BBS.

“Satgas Oksigen Provinsi membagi wilayah, Samator distribusi ke Pulau Sumbawa, dan BBS untuk Pulau Lombok.”

“Tapi dua distributor ini tidak bisa mengcover semua. Untuk Rumah Sakit KLU saja, tabung besar itu tidak terisi, yang terisi, hanya tabung-tabung biasa,” tambahnya seraya meminta Satgas Oksigen mengevaluasi (menambah) jumlah distributor Oksigen.

Bahrudin melanjutkan, limitnya oksigen sangat riskan terhadap kinerja pelayanan. Tidak jarang, ketiadaan oksigen memaksa faskes di KLU melakukan rujukan ke RSUD Provinsi kendati pasien masih bisa tertangani secara medis.

Di sisi lain, pelayanan di Puskesmas juga terpengaruh oleh keterbatasan Oksigen, menyusul kuota oksigen milik Puskesmas disumbangkan ke RSUD. Secara teknis, Puskesmas juga tidak leluasa melakukan penanganan.

“Pengalihan oksigen ke rumah sakit memang pilihan sulit. Puskesmas butuh, rumah sakit juga butuh untuk penanganan Covid-19. Terpaksa kita ambil risiko, prioritaskan yang di rumah sakit,” sebut Bahrudin.

Pihaknya berharap, di tengah keterbatasan prasarana pendukung Oksigen, masyarakat tetap menjaga kedisiplinan dalam pencegahan Covid-19. Sampai 31 Juli lalu, angka kasus Covid di KLU terakumulasi menjadi 29 kasus terkonfirmasi. Angka harian kasus, sebut Bahrudin, bervariasi antara 5, 7 sampai 8 kasus.

“Dulunya angka harian di bawah 5, sekarang sudah di atas (5). BOR (Bed Occupancy Rate) di rumah sakit mulai meningkat, artinya tempat tidur pasien rata-rata terisi,” jelasnya.

Hingga hari kemarin, status Covid di Lombok Utara berada di level 3 dari level tertinggi yakni level IV. Dengan situasi itu, ia berharap pemegang kebijakan menggiatkan dan mengontrol pelaksanaan PPKM di masyarakat, serta mengontrol pelaksanaan Satgas Covid tingkat Desa.

“PPKM harus jalan maksimal. Makanya saya maunya, bagaimana Pemda mengawasi pelaksanaan Satgas Desa. Selain itu menyiapkan anggaran untuk Satgas Desa. Karena tidak mungkin Satgas bekerja kalau tidak ada anggaran,” pungkasnya. (ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional