Penanganan Ganti Rugi Diwacanakan dalam Bentuk Jadup

Iwan Setiawan. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Bencana banjir di Desa Labuhan Lombok dan Desa Seruni Mumbul atas luapan sungai Cermei berdampak pada perekonomian masyarakat. Sebagian barang-barang berharga milik warga rusak akibat terendam banjir yang terjadi, Senin, 14 Desember 2020. Atas kondisi ini, Pemda Lotim mewacanakan ganti rugi dalam bentuk jaminan hidup (jadup).

Hal ini diungkapkan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada BPBD Lotim, Iwan Setiawan, kepada Suara NTB, Jumat, 18 Desember 2020.

BPBD Lotim, ujarnya, terus melakukan asesmen dan pendataan terhadap dampak yang terjadi akibat banjir bandang di Kecamatan Pringgabaya dan Suela. Dari penghitungan sementara, nilai kerusakan akibat bencana banjir ini mencapai Rp2,1 miliar.

Tingginya nilai  kerusakan yang paling banyak terjadi berupa peralatan rumah tangga, alat elektronik, barang pecah belah dan lain sebagainya. Nilai kerugian sebesar, Rp2,1 miliar tersebut dari penghitungan sebanyak 1.950 rumah yang rata-rata terendam atas luapan Sungai Cermei yang terletak di perbatasan antara Desa Seruni Mumbul dan Labuhan Lombok.

“Termasuk nilai kerusakan itu beserta empat tanggul yang jebol yang terdapat di Desa Seruni Mumbul dan Desa Labuhan Lombok serta dua rumah di Desa Perigi dan satu tembok sekolah yaitu SDN 4 Perigi,” terangnya.

Nilai kerusakan inipun sudah dilaporkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mempercepat proses penanganan karena segala bencana alam dan non alam harus secepatnya dilakukan penanganan dan diharapkan bantuan dapat segera turun.  “Nantinya ganti rugi kerusakan dalam bentuk uang dan barang dengan prosesnya sama dengan bencana gempa tahun 2018 dan 2019 lalu. Kita wacanakan dalam bentuk jadup,”ungkapnya.

Iwan menambahkan, dari data BMKG bahwa puncak cuaca ekstrem sampai bulan Januari-Februari. Namun di Kabupaten Lotim mengantisipasi hingga bulan April dampak dari La Nina yang terjadi. Sementara bencana banjir yang terjadi di Kecamatan Suela dan Pringgabaya, disebabkan air kiriman dari pegunungan akibat frekuensi hujan selama dua hari berturut-turut.

Terlebih aliran air di Sungai Cermei berhadapan langsung dengan laut yang menyebabkan aliran dari hulu ke hilir melambat dan meluap ke pemukiman warga. Apalagi konstruksi pemukiman warga lebih rendah dari sungai yang ada. Sehingga ke depan akan dikomunikasikan dengan BNPB supaya rumah-rumah yang dekat dengan sempadan sungai 10 meter dibebaskan serta dibuatkan beronjong yang lebih tinggi.

Selain banjir bandang, masyarakat di Seruni Mumbul juga mengkhawatirkan akan terjadinya banjir rob berupa naiknya air laut.

Kekhawatiran akan terjadinya banjir rob ini sudah dirasakan sejak lama. Hanya saja, usulan tahun 2019 itu gagal dieksekusi tahun 2020 lantaran terdampak virus Corona. “Banjir rob memang jadi kekhawatiran masyarakat. Pernah 2019 dijanjikan oleh bupati. Kita berharap 2021 bisa dilaksanakan,”harap Kepala Desa Seruni Mumbul, Tajuddin.

Terdapat dua dusun yang membutuhkan dibuat tanggul yaitu pantai yang menghadap ke Dusun Mandar dan Brangtapen Asri dengan jumlah penduduk di dua dusun tersebut sebanyak 1000 KK. Pasalnya, setiap tahun khususnya saat terjadi bulan purnama selalu terjadi.

Terpisah, salah satu masyarakat di Dusun Brangtapen Asri, Sahnun, mengaku resah dan khawatir atas kondisi air laut yang kerap naik ke pemukiman. Situasi tersebut sudah lama terjadi sejak tinggal pada tahun 1965. Bahkan yang paling parah menurutnya ketika air laut pasang disertai hujan dan banjir.

Sementara, pembangunan tanggul hanya di Dusun Mandar. Kondisinya pun saat ini sudah jebol dihempas gelombang laut yang pasang. Untuk di Dusun Brangtapen Asri sama sekali belum dilakukan pembangunan tanggul.  (yon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here