Penambang Liar Membandel, DLHK Lotim akan Seret ke Ranah Hukum

TAMBANG ILEGAL - Lokasi tambang ilegal di Lotim yang banyak dikeluhkan warga. Pemkab Lotim akan menindak tegas penambang liar yang membandel dan tidak mematuhi aturan. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Para penambang liar yang diduga membandel dan tetap melakukan penambangan tanpa izin di wilayah Tembeng Putik dan Mamben Baru Kecamatan Wanasaba. Padahal, Tim Satuan Tugas (Stagas) Penegakan Hukum (Gakum) Lingkungan Hidup sudah melakukan teguran keras.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Lotim, Mulki menyatakan akan menyeret para pelaku tambang nakal tersebut ke ranah hukum. Apalagi selama ini, pihaknya sudah melakukan upaya persuasif, namun penambang liar tetap mengelabui petugas.

Iklan

Ada sinyalemen aktivitas tambang liar yang dilakukan oknum penambang ini ada yang mendukung, sehingga salah satu cara yang ditempuh adalah dengan penegakan hukum. Bahkan, para pelaku tambang liar ini sudah diundang ke Kantor DLHK beberapa waktu lalu.

Rencananya, Rabu mendatang akan diundang kembali untuk gelar perkaranya. Setelah itu akan dilimpahkan langsung ke Polres Lotim guna menindaklanjuti pelanggaran hukum yang dilakukan para penambang.

Menurutnya, aktivitas tambang tanpa memperhatikan lingkungan itu menimbulkan kerusakan dan ada indikasi pelanggaran. Namun, karena ranahnya pidana adalah aparat kepolisian, sehingga diserahkan sepenuhnya ke aparat kepolisian unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Satuan Reserse Kriminal (Satrekrim) Polres Lotim.

Diakuinya sudah berulang kali melakukan teguran pada para penambang, namun masih saja melakukan penambangan. Saat dilakukan teguran langsung, ada penambang ini menyuguhkan bukti eksplorasi.  Sementara bukti izin ini jelas belum cukup, karena belum memenuhi syarat untuk memulai penambangan.

Aktivitas penambangan ini telah membuat air irigasi sawah-sawah pertanian yang subur di wilayah Kecamatan Wanasaba dan Pringgabaya serta Labuhan Haji menjadi terganggu. Material sisa tambang yang hanyut bersama dengan air irigasi ini dikeluhkan petani. Pasalnya, material tanah keras ini membuat lahan-lahan pertanian turut mengeras dan membuat tanaman rusak.

Di samping itu, lokasi penambangan juga terlihat tidak memperhatikan keselamatan warga lainnya. Ada salah satu lokasi penambangan di tebing pinggir jalan. Dikhawatirkan material berjatuhan di bawah tebing yang merupakan jalan kabupaten yang ramai dilalui warga. (rus)