Pemprov Susun Peta Rencana Kerja Wisata Medis

L. Gita Ariadi (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB mulai menyusun peta rencana penerapan konsep health tourism atau wisata berbasis kesehatan. Hal tersebut ditujukan untuk melengkapi jenama NTB sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Sekda NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si, menerangkan bahwa hal tersebut penting sebagai strategi untuk memenuhi target 4,5 juta wisatawan yang telah ditentukan pemerintah daerah.

Iklan

‘’Jadi kita lengkapi branding (jenama) kita sebagai MICE destination, halal tourism, sport tourism, termasuk kalau (wisatawan) ingin merasakan sensasi layanan pengobatan sembari berwisata,’’ ujarnya dikonfirmasi, Senin, 20 Januari 2020 di Mataram.

Diterangkan Sekda, upaya tersebut harus diikuti dengan beberapa persiapan. Khususnya untuk infrastruktur layanan, kualitas SDM, dan hospitality atau pelayanan kesehatan sesuai standar yang dibutuhkan.

Mengingat pasar wisatawan NTB terus berkembang, seluruh komponen pendukung tersebut harus segera disiapkan untuk menyukseskan wisata medis di NTB.

‘’Seiring perkembangan pariwisata kita, wisatawannya bukan hanya yang biasa-biasa saja. Sudah ada yang berkelas, seperti tempo hari keluarga Kerajaan Timur Tengah yang datang,’’ ujar Sekda.

Di sisi lain, penerapan wisata medis di NTB juga diharapkan dapat mendorong percepatan penyelesaian masalah-masalah kesehatan yang ada. Hal itu diakui merupakan tantangan yang tidak gampang dari penerapan konsep tersebut.

‘’Justru saat stigma negatif banyak di bidang kesehatan, kita (berani) mem-branding. Sisi positifnya kita semakin menambahkan ikhtiar penuntasan masalah kesehatan,’’ tegas Sekda.

Dari penyusunan peta rencana kerja sendiri disusun keunggulan pelayanan kesehatan di NTB serta potensinya untuk ditawarkan kepada wisatawan.

Senada dengan itu Kepala Dinas Pariwisata NTB, H. L. Moh. Faozal, menerangkan bahwa rapat penyusunan peta rencana kerja untuk penerapan wisata medis salah satunya untuk menyambut beberapa agenda yang akan datang. Yaitu dipilihnya Lombok sebagai lokasi Medical Tourism Summit tahun ini.

Diterangkan Faozal, selain sinergitas antara pemerintah, rumah sakit dan pelaku industri pariwisata, hal tersebut memang membutuhkan beberapa persiapan. ‘’Yang pasti layanan harus dibenahi, kualitas layanan juga harus baik,’’ ujarnya, Senin, 20 Januari 2020 di Mataram.

Dikonfirmasi terpisah Direktur RSUD NTB, dr. H. Lalu Hamzi Fikri MM, MARS., menerangkan bahwa saat ini beberapa rumah sakit di NTB telah menyiapkan layanan unggulannya untuk ditawarkan kepada wisatawan. Diantaranya layanan Radioterapi milik RSUD NTB, dan layanan Hyperbaric milik RSUD Kota Mataram.

‘’Nanti semua itu akan dikemas bersama Asita (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies), ada MoU kami dari sisi medis, dan non-medisnya dari industri parwisita,’’ ujar Fikri yang juga menjabat sebagai anggota Tim Gugus Tugas Pelaksana Pengembangan Wisata Kesehatan Kementerian Kesehatan di NTB.

Selain itu, Dikes NTB juga disebut tengah melakukan pemetaan terhadap layanan rumah sakit di NTB yang dapat dimasukkan dalam penarapan wisata medis di NTB. Fikri sendiri menyebut pihaknya telah mengajukan penguatan regulasi dengan pembentukan Tim Gugus Tugas di tingkat provinsi.

‘’Jadi di sini perlu tim gugus tugas juga. Karena ini akan menghubungkan semua stakeholder terkait,’’ ujar Fikri. Hal tersebut sesuai dengan arahan dari Kementerian Kesehatan agar setiap daerah yang ditunjuk sebagai pelaksana wisata medis memiliki Tim Gugus Tugas untuk mendorong percepatan proses. ‘’Arahan dari Sekda kita sudah usulkan. Semoga bisa segera dibuat,’’ pungkasnya. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional