Pemprov Selidiki Dugaan Penjualan Aset Gili Tangkong Rp825 Miliar

Aset Pemprov NTB di Gili Tangkong, Sekotong, Lombok Barat. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB telah mendengar informasi soal dugaan penjualan aset milik daerah di Gili Tangkong lewat situs online sebesar Rp825 miliar. Menindaklanjuti informasi tersebut, Pemprov melalui Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) mengaku telah menurunkan tim untuk menyelidiki dugaan penjualan aset tersebut.

Jika benar ada oknum yang menjual aset daerah seluas 7,2 hektare tersebut. Maka Pemprov akan melaporkan tindakan tersebut ke kepolisian.

Iklan

‘’Kita sudah mendengar informasinya. Kita sedang selidiki dia. Kita cek dulu dia. Kalau dia memang betul adanya, baru kita akan laporkan ke kepolisian,’’ ujar Kepala UPT Balai Pemanfaatan dan Pengamanan Aset BPKAD NTB, Drs. Muhammad Anwar dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 4 September 2020 siang kemarin.

Dalam situs balivilasale.com, aset seluas 66.000 meter persegi ditawarkan dengan harga Rp825 miliar. Dalam situs tersebut juga ditampilkan beberapa foto pemandangan tentang Gili Tangkong.

Anwar mengatakan, pihaknya masih menyelidiki dugaan penjualan aset secara online tersebut. Apabila nanti ditemukan bahwa hal tersebut benar, maka pihaknya akan berkoordinasi dengan Biro Hukum untuk melaporkan oknum yang berani menjual aset daerah tersebut.

‘’Masih kita selidiki, kami turun ke lapangan. Mungkin ini sensasi saja. Yang jelas, kita sudah punya sertifikat. Kalau terjadi apa-apa, kita tuntut langsung dia. Kita laporkan ke polisi nanti,’’ tandasnya.

Anwar menambahkan, sudah ada mitra Pemda untuk pengeloaan aset Pemprov NTB yang berada di Gili Tangkong. Pemprov telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mengenai pemanfaatan aset seluas 7,2 hektare tersebut pada HUT NTB ke – 61 Tahun 2019 lalu.

‘’Cuma ada kendala sedikit. Ada yang mengaku bahwa ada di pinggir pantai itu diakui oleh oknum. Makanya sedang kita clear-kan. Sambil kita menunggu selesai Covid, baru kita panggil mitra Pemda itu,’’ jelasnya.

Anwar mengungkapkan, ketika Gili Tangkong ini mulai menggeliat. Ada saja oknum yang menggugat. Bahkan ada masyarakat yang mematok lahan milik Pemda tersebut.’’Tapi kita punya bukti kepemilikan. Mental saja dia gugatannya,’’ujar Anwar.

Dalam pengelolaan aset di Gili Tangkong, Pemprov menggandeng PT. Heritage Resort & Spas. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc dan Presiden Direktur PT. Heritage Resort & Spas telah  meneken atau menandatangani MoU pemanfaatan aset di Gili Tangkong, Sekotong, Lombok Barat. Investor asal Kepulauan Riau tersebut berencana akan membangun resort kelas dunia di Gili Tangkong.

PT. Heritage Resort and Spas ditetapkan menjadi mitra Pemda dalam kerja sama pemanfaatan aset daerah di Gili Tangkong, setelah dilakukan seleksi terhadap investor yang berminat. Penetapan PT. Heritage Resort and Spas menjadi mitra Pemda dalam pemanfaatan aset daerah seluas 72.723 meter persegi di Gili Tangkong pada 3 September 2019.

Tiga investor yang memasukkan penawaran untuk  mengelola aset Pemprov NTB di Gili Tangkong. Awalnya, ada delapan investor yang mendaftar dalam seleksi terbuka yang dilakukan tim panitia independen yang dibentuk Pemprov NTB.

Namun, dari delapan investor ang mendaftar, hanya tiga yang menyerahkan dokumen penawaran. Yakni PT. Heritage Resort and Spas (Bintan), PT. Istana Cempaka Raya (Mataram), dan PT. Ananda Tangkong Paradise (Denpasar). Hasil seleksi yang dilakukan Panitia Pemilihan Mitra Kerja Sama Pemanfaatan Barang Milik Daerah (BMD) Pemprov NTB, PT. Heritage Resort  and Spas menjadi peringkat pertama dengan total nilai 91,27 persen.

Panitia pemilihan melihat dari dua aspek. Pertama, dokumen dan RIP. Untuk peringkat kedua, PT. Istana Cempaka Raya dengan nilai 83,60 dan PT. Ananda Tangkong Paradise mendapatkan nilai 64,06. (nas)