Pemprov NTB Bantuk Tim Pengawas Tembakau

Muhammad Riadi. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB berdasarkan arahan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah membentuk tim pengawas tembakau. Tim ini dibentuk sebagai inisiatif daerah dan dorongan para petani tembakau. Gabungan para petani tembakau Lombok melakukan audiensi dengan Gubernur NTB, disampaikan sejumlah persoalan dan kekhawatiran masa depan petani tembakau Lombok.

Menjawab hal itu, orang nomor satu di NTB ini langsung menginstruksikan pembentukan tim yang nantinya akan melakukan pengawasan untuk memperkuat tata kelola pertembakauan di provinsi ini. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi ditemui di kantornya, Kamis, 29 Juli 2021 menjelaskan, pembentukan tim ini sedang dalam proses.

Iklan

Didalamnya terdiri dari OPD terkait dan stakeholders lainnya. Termasuk dari unsur perusahaan, perusahaan tembakau, legislatif, dan unsur petani/aktivis tembakau. “Kita sedang rumuskan. Tim ini sekaligus mengakselerasikan amanat Perda tentang budidaya tembakau,” kata kepala dinas.

Dua hal yang akan menjadi fokus perhatian tim pengawas ini dalam jangka pendek. Pertama soal ompongan tembakau yang saat ini masih masif menggunakan bahan bakar kayu. Penggunaan bahan bakar kayu ini sudah berlangsung bertahun tahun. Jika terus menerus petani menggunakan bahan bakar ini, dikhawatirkan akan makin memperparah keadaan hutan.

“Saya saja ngeri lihat kayu yang bertumpuk-tumpuk untuk bahan bakar tembakau. Di sekitar Lombok Tengah dan Lombok Timur kita dengan mudah menjumpai kayu kayu tebangan yang akan dijadikan bahan bakar omprongan tembakau. Lama lama ini bisa merusak keseimbangan alam,” kata kepala dinas. Karena itu, tahun 2021 ini ada anggaran DBHCHT sebesar Rp1 miliar yang dapat digunakan mengkonversi tungku omprongan oven tembakau petani. Ada sekitar 52 petani yang akan diberikan tungku oven yang bahan bakarnya menggunakan cangkang kemiri, atau cangkang sawit.

“Satu oven harga tungkunya kisaran Rp18 juta atau Rp19 juta. Sekitar 52 atau 55 orang petani akan diberikan tungku ini. Dikhususkan petani swadaya, kalau petani mitra sudah menjadi tanggungan perusahaan,” jelas kepala dinas. Menggunakan bahan bakar cangkang sawit dan kemiri, lanjut kepala dinas, lebih solutif.

Petani juga tak susah akan mendapatkannya. Ada pengepulnya di Lombok yang menjadi supplier. Cangkang sawit bisa didatangkan dari Kalimantan. Selain soal konversi, tim pengawas ini lanjut kepala dinas, juga akan fokus untuk mencarikan pasar bagi hasil produksi petani swadaya. Untuk petani-petani mitra, pangsa pasarnya jelas. Ke perusahaan-perusahaan yang menjadi mitranya. Sementara petani swadaya ini nantinya akan dicarikan pasar sehingga produksi petani bisa terserap seluruhnya oleh pasar.

“Tim pengawas ini fungsinya strategis nanti. Tapi kita tidak mau juga tim ini menjadi super body, tidak boleh dia yang mengatur ngatur perusahaan. Karena tugas pemerintah adalah sebagai fasilitator, ya perusahaan (investasi) juga harus merasa nyaman dan aman di sini. Kita juga jaga itu,” demikian Riadi. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional