Pemprov NTB Antisipasi Krisis Air Bersih di 318 Desa

Mataram (Suara NTB) – Berdasarkan hasil monitoring Stasiun Klimatologi Kediri Lombok Barat (Lobar), sebagian besar wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau. Mengantisipasi dampak musim kemarau, Pemprov NTB melakukan antisipasi krisis air bersih di 318 desa yang mengalami kekeringan tahun 2017 lalu.

Kepala Stasiun Klimatologi Kediri Lobar, Wakodim, SP, MM mengatakan curah hujan pada dasarian II  April 2018 di wilayah NTB  secara umum berada pada kategori rendah atau di bawah 20mm/dasarian. Curah hujan tertinggi pada dasarian II April ini tercatat di Pos Hujan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat sebesar sebesar 221 mm/dasarian.

Iklan

Dari monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) sebagian besar wilayah masih dalam kategori 1 – 5 hari atau sangat pendek. Meskipun demikian sudah terlihat mulai banyak juga daerah dengan HTH kategori menengah (11 – 20 hari) hingga apnjang (21 -30 hari). HTH terpanjang terpantau di Orong Telu, Kabupaten Sumbawa (27 hari) dan di Jerowaru, Kabupaten  Lombok Timur (26 hari).

‘’Dari monitoring awal musim kemarau, saat ini sebagian besar wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau. Kecuali di wilayah Pulau Lombok bagian barat dan utara yang saat ini belum memasuki musim kemarau dan masih berada dalam periode transisi menuju musim kemarau,’’ kata Wakodim, Sabtu, 21 April 2018.

Analisis angin timuran sebagai tanda datangnya musim kemarau di wilayah NTB sudah mulai terlihat meskipun belum stabil. ENSO saat ini berada pada posisi netral sementara kondisi suhu muka laut di perairan selatan NTB menunjukan kondisi lebih hangat dibandingkan dengan normalnya.

Kondisi tersebut menyebabkan masih adanya potensi hujan dengan skala lokal melalui proses konvektif yang dapat terjadi pada siang hingga sore hari khususnya untuk wilayah Pulau Lombok bagian Barat dan Kabupaten Sumbawa Barat bagian barat.

Dijelaskan, peluang terjadinya curah hujan > 20 – 50 mm/dasarian di sebagian wilayah NTB pada dasarian III April 2018 sebesar 80-90 persena. Yaitu di Pulau Lombok Bagian Barat, Pulau Sumbawa bagian barat, serta wilayah Bima dan Dompu. Saat ini sebagian wilayah NTB belum memasuki musim kemarau dan masih berada dalam periode transisi menuju musim kemarau.

‘’Perlu diwaspadai  potensi terjadinya hujan lebat dalam skala lokal yang terjadi dalam waktu singkat khususnya di Pulau Lombok bagian barat dan utara,’’ katanya.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Ir. Mohammad Rum, MT yang dikonfirmasi Suara NTB, pekan kemarin mengatakan bahwa memang saat ini masuk musim pancaroba. Yakni peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

‘’Tapi memang masih ada di beberapa tempat ada hujannya. Tapi hujan begini sebentar hilang, ndak signifikan,’’ ujarnya.

Rum mengatakan, pada musim kemarau tahun ini, pihaknya mengantisipasi 318 desa yang dilanda kekeringan tahun lalu. Pihaknya bersama SKPD lainnya mengantisipasi krisis atau kekurangan air bersih yang sering melanda NTB tiap tahun, pada ratusan desa tersebut.

‘’Ancaman kita adalah 318 desa yang mengalami kekeringan tahun lalu. Mudah-mudahan bisa kita antisipasi,’’ katanya.

Menurut Rum, pihaknya berencana akan menggelar rapat koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota dan BMKG mengntisipasi bencana kekeringan tahun ini. Bukan hanya BMKG dan BPBD, pihaknya juga akan mengundang semua pihak terkait lainnya seperti Dinas PUPR, Dinas Sosial.

‘’Kira-kira apa yang akan kita lakukan ketika menghadapi kekeringan. Kita akan lakukan rakor siaga kekeringan Provinsi NTB,’’ terangnya.

Diketahui, bencana kekeringan 318 desa tahun lalu  tersebar di  71 kecamatan. Dengan jumlah warga yang terdampak sebanyak 127.940 KK atau 640.048 jiwa. Dengan rincian,  Lombok Barat sebanyak 25 desa dengan jumlah jiwa yang terdampak 20.034 jiwa, Lombok Utara 18 desa dengan jumlah masyarakat terdampak 33.138 jiwa.

Selanjutnya, Lombok Tengah 82 desa, dengan jumlah masyarakat terdampak 282.793 jiwa, Lombok Timur 48 desa dengan jumlah masyarakat terdampak 153.681 jiwa. Kemudian, Sumbawa Barat 10 desa dengan jumlah masyarakat terdampak 18.775 jiwa, Sumbawa 60 desa dengan jumlah masyarakat terdampak 84.998 jiwa, Dompu 25 desa dengan jumlah masyarakat terdampak 19.189 jiwa, Kota Bima 8 desa dengan jumlah masyarakat terdampak 2.835 jiwa dan Bima 42 desa dengan jumlah masyarakat terdampak 24.608 jiwa. (nas)