Pemprov Kaji Pembukaan Resmi Tol Laut Lembar – Banyuwangi

Antrean penumpang di pelabuhan penyeberangan lembar.(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB mengkaji peresmian tol laut rute Pelabuhan Lembar, Lombok Barat (Lobar), menuju Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Rute tersebut diproyeksikan dapat menjadi rute reguler paling cepat awal September mendatang.

“Percobaan sudah ada sekitar seminggu yang lalu, artinya rute ini sudah ada. Kita tadinya mau buka secara resmi, tapi rencananya bulan September awal ini resminya,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) NTB, Drs. H. Lalu Bayu Windya, Jumat, 14 Agustus 2020.

Iklan

Diterangkan, pelayaran dari Lembar menuju Tanjung Wangi akan difasilitasi dua kapal laut. Namun saat ini masih satu yang dioperasikan untuk melihat pasar, yaitu kapal Mutiara Shipping milik PT. Atosim Lampung Pelayaran.

“Ini sebenarnya belum diresmikan saja. Tapi sudah berjalan,” ujar Bayu. Dalam masa percobaannya kapal tersebut memfasilitasi baik penyeberangan penumpang maupun angkutan barang.

Menurut Bayu, pada pelayaran perdana pekan lalu kapal yang berangkat dari Lembar menuju Tanjung Wangi dan sebaliknya full penumpang. Khususnya dari angkutan barang yang mendominasi.

‘’Tidak disangka-sangka penuh semua. Kita sampai tolak-tolak juga istilahnya. Itu akomodasi, truk-truk barang itu. Kalau yang penumpang belum ada,’’ jelasnya. Tarif yang akan dikenakan antara lain Rp150 ribu untuk penumpang dewasa, Rp100 ribu untuk penumpang bayi.

Untuk kendaraan tarif yang dikenakan antara lain Rp150 ribu untuk sepesa tanpa penumpang, Rp250 ribu untuk sepeda motor roda 2 dengan 1 orang penumpang, Rp550 ribu untuk sepeda motor roda 3 atau roda 2 diatas 250 cc dengan 1 orang penumpang, Rp1,5 juta untuk sedan dengan penumpang 4 orang.

Kemudian untuk mobil bak terbuka dengan 1 orang penumpang dikenakan tarif Rp1,2 juta, bus kecil dengan 15 penumpang Rp2.5 juta, truk sedang dengan 2 penumpang Rp1,9 juta, bus besar dengan 30 penumpang Rp4,2 juta, truk besar dengan 2 penumpang Rp3 juta.

Untuk tronton dengan dua orang penumpang dikenakan tarif Rp3,9 juta, trailer 20 kaki dengan penumpang 2 orang Rp5,5 juta, dan trailer 40 kaki atau truk gandeng Rp8 juta.

Berdasarkan penilaian yang dilakukan, rute tersebut menurutnya sangat mungkin menjadi rute reguler. Mengingat pemanfaatannya cukup baik pada pelayaran perdana, serta waktu tempuh yang cenderung lebih singkat yaitu 11-12 jam dalam satu kali perjalanan.

‘’Jadi ini bisa setiap hari (jadwal pelayaran) dengan dua kapal yang disiapkan. Ini kita lihat penumpangnya dulu. Dari perjalanan perdana kemarin, uji coba itu di luar dugaan kita memang penuh,’’ tandas Bayu. (bay)