Pemkot Tebang 400 Pohon untuk Pelebaran Jalan

Sisa batang pohon di sepanjang ruas jalan Pendidikan yang telah ditebang untuk kebutuhan pelebaran jalan. DLH Kota Mataram mencatat 427 pohon sepanjang Jalan Catur Warga - Jalan R Suprapto harus ditebang untuk proyek tersebut.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram mencatat 427 pohon ditebang untuk proyek pelebaran Jalan Catur Warga – Jalan R Suprapto. Jumlah tersebut mengikuti kebutuhan pelebaran hingga 3 meter untuk masing-masing sisi jalan.

“Ketika bulan Januari kontraktornya sosialisasi ke Kantor DLH, bermaksud minta bantuan kami untuk ikut memotong setelah ada izin dari Pak Sekda. 427 pohon itu hitungan kami dari tiga ruas jalan (Jalan Catur Warga, Jalan Pendidikan, Jalan R Suprapto),” ujar Kepala DLH Kota Mataram, M. Nazaruddin Fikri, Selasa, 6 April 2021.

Iklan

Diterangkan, untuk penanaman kembali pohon di sepanjang jalur tersebut pihaknya sepenuhnya menyerahkan pada kontraktor sesuai dengan rancangan proyek di tingkat Provinsi. Pemkot Mataram sendiri menurut Nazaruddin hanya bisa mengintervensi jenis pohon yang harus ditanam.

“Nanti Pak Walikota yang bisa intervensi jenis pohon apa yang harus ditanam. Mungkin kita pilih mana yang paling ramah dengan trotoar dan cepat tumbuh,” jelasnya. Di sisi lain, pemotongan diakuinya harus segera dilakukan. Mengikuti kontrak yang telah disepakati.

Kendati demikian, proses penanaman kembali menurutnya masih akan menunggu proses pengerjaan jalan dimulai. Mengingat setelah penebangan pohon dilakukan masih ada proses pembebasan lahan. “Sekarang ini kita menunggu saja. Untuk pohon-pohon yang ditebang, rantingnya sudah dibuang ke TPA dan batangnya yang besar kita simpan di Kantor DLH sesuai arahan Walikota,” ujar Nazaruddin.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Mataram, Miftahurrahman menyebut anggaran yang telah disiapkan untuk pelebaran Jalan Catur – Warga – Jalan R Suprapto baru sebesar Rp5 miliar. Dengan target pelebaran masing-masing 3 meter untuk kedua sisi jalan, selain pemotongan pohon yang ada di jalur tersebut potensi pembebasan lahan sulit dihindari.

“Rp5 miliar Itu sudah untuk semuanya. Termasuk biaya operasional seperti konsultasi publik, sosialisasi masyarakat, pendaftaran, appraisal, termasuk nanti pematokan. Kemudian baru biaya pembebasan lahan,” jelas Mifta.

Menurutnya, besaran anggaran yang disiapkan saat ini memang sangat tidak mencukupi. Namun mempertimbangkan proyek pelebaran jalan akan membutuhkan jangka waktu panjang, telah dicapai kesepakatan dengan pemerintah pusat untuk dapat dilakukan pembayaran secara bertahap mengikuti kebutuhan di lapangan.

“Nanti kita lihat dari lebar badan jalannya, berapa yang harus dibebaskan kiri-kanan untuk bisa mengikuti ranganan (penambahan) 3 meter. Memang kondisi jalan kita di sana sempit, mulai dari jembatan (di perempatan Karang Sukun) sampai lampu merah Kamboja dan Kantor Bappeda NTB,” jelasnya.

Pembebasan lahan sendiri disebut Mifta menjadi tantangan utama. Mengingat banyak rumah dan toko yang memiliki jarak sangat dekat dengan badan jalan di sepanjang jalur tersebut. Termasuk untuk kantor-kantor pemerintahan dan gedung pendidikan.

“Misalnya di Airlangga di perempatan AMM Mataram itu nanti bagaimana, kita lihat dulu. Tapi tantangan kita memang di sepanjang jalan Catur Warga nantinya,” tandas Mifta. (bay)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional