Pemkot Sosialisasikan Penyesuaian Tarif Retribusi Pasar Tradisional

H. M. Syakirin Hukmi. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram mendorong evaluasi terhadap besaran retribusi pasar tradisional di Kota Mataram segera dilakukan. Hal tersebut dibutuhkan untuk mendapat gambaran komprehensif tentang efisiensi aset daerah.
Sesuai Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 paling tidak evaluasi terhadap retribusi ini dilakukan tiga tahun sekali. Ini perlu kajian lebih dalam terkait tarif itu sendiri, karena pada dasarnya retribusi berkaitan dengan pelayanan apa yang sudah diberikan, ujar Kepala BKD Kota Mataram, H. M. Syakirin Hukmi, pekan kemarin.
Menurutnya, evaluasi tersebut sangat tergantung pada respon dari Dinas Perdagangan selaku OPD penanggungjawab retribusi pasar tradisional.

Harus ada kajian dulu dari mereka berapa biaya yang muncul dari sisa subsidi pemerintah terhadap pelayanan yang diberikan, jelas Syakirin.
Hasil evaluasi dari Dinas Perdagangan kemudian akan digunakan untuk menentukan besaran tarif komersil untuk retribusi pasar serta jumlah subsidi yang mungkin diberikan pemerintah. Tapi dalam tarif itu pasti sudah termasuk subsidinya, ujarnya.

Iklan

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Syamsul Irawan menyebut penyesuaian tarif retribusi pasar tradisional sampai saat ini masih disosialisasikan ke pedagang. Jika berjalan, tarif retribusi akan disesuaikan dengan tipe masing-masing pasar.

Untuk pasar tipe C disebutnya tidak mengalami perubahan dari retribusi sebelumnya sebesar Rp500. Sedangkan untuk pasar tipe A seperti Pasar Kebon Roek, Pasar Mandalika, dan Pasar Pagesangan mengalami kenaikan tarif dari Rp800 menjadi Rp1.500. Kemudian pasar tipe B mengalami kenaikan dari Rp600 menjadi Rp1.000.

Sekarang kami masih sosialisasi. Setelah ini baru penerapannya, ujar Syamsul. Diterangkan, dari total target Rp8 miliar retribusi pasar di 2021, sampai saat ini baru tercapai 40-50 persen. Dengan sisa waktu tiga bulan hingga akhir tahun, Kepala Pasar diminta meningkatkan kembali capaiannya. Meskipun sedang pandemi, paling tidak Kepala Pasar mendekati target, sambungnya.

Menurut Syamsul, pandemi Covid-19 memang menjadi salah satu kendala pemenuhan retribusi pasar. Terutama akibat aturan pembatasan yang sempat membuat pasar tradisional menjadi sepi pengunjung. Kendati demikian, pedagang dan masyarakat didorong untuk kembali meramaikan pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mengingat transaksi di pasar tradisional menjadi salah satu penyumbang pemenuhan pendapatan asli daerah. (bay)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional