Pemkot Siapkan STNK Cidomo

Salah satu cidomo menunggu penumpang di Pasar Sindu, Mataram, Rabu, 23 Desember 2020. Tahun depan, Pemkot Mataram mewajibkan seluruh cidomo memiliki STNK-TB sebagai bentuk kepatuhan administratif.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram menyiapkan penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor (STNK-TB) bagi cidomo yang beroperasi. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram, M. Saleh, menyebut hal tersebut dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi cidomo sebagai salah satu aset daerah.

“Kita tahun depan ini mulai (perbitan STNK-TB) dengan pembinaannya. Sekarang kita sudah selesaikan pendataan dulu,” ujar Saleh, Rabu, 23 Desember 2020. Berdasarkan catatannya, saat ini ada 354 cidomo yang beroperasi di Kota Mataram. “Yang dari Kota Mataram itu ada 211 unit, dan 143 sisanya itu dari Lombok Barat (Lobar),” sambungnya.

Dengan penerbitan STNK-TB tersebut seluruh cidomo akan terdaftar secara resmi di Dishub Kota Mataram. Selain itu, pihaknya menekankan dengan diregistrasinya seluruh cidomo bukan berarti masing-masing pemilik harus menyetorkan pajak ke pemerintah.

“Kita belum ada peraturan daerah yang mengatur cidomo ini sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Jadi kalaupun sudah ada STNK-TB, dia masih gratis kalau di Kota Mataram,” jelasnya.

Terkait cidomo dari luar daerah yang beroperasi di Kota Mataram akan dikoordinasikan dengan Dishub daerah setempat. “Ini fungsi koordinasi kita juga dengan Dishub Lobar dan sebagainya,” ujar Saleh. Kedepan, seluruh cidomo tersebut diharapkan tertib secara administratif sekaligus mematuhi aturan-aturan tentang kebersihan.

“Kantong kotoran juga harus bersih dan mereka harus taat trayek-nya,” ujar Saleh. Menurutnya, untuk mencapai target yang diinginkan memang membutuhkan pembinaan jangka panjang.

Pembinaan tersebut perlu dilakukan untuk membantu cidomo dapat bertahan. Terutama dengan banyaknya moda transportasi lainnya yang dapat dipilih oleh masyarakat. Untuk itu, pengembangan cidomo sebagai moda transportasi lokal perlu mendapat perhatian.

“Biarkan masyarakat yang memilih moda transportasi yang aman. Kalau besok masyarakat merasa tidak nyaman lagi dengan cidomo, masyarakat bisa beralih ke transportasi yang lain,” tandas Saleh. (bay)