Pemkot Potong 32 Reklame Ilegal

Ilustrasi Papan Reklame (Piqsels)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram terus mengoptimalkan potensi pendapatan asli daerah (PAD). Pajak reklame menjadi salah satu sektor memiliki kontribusi selain potensi pendapatan lainnya. Sebanyak 32 reklame dipotong karena tak memiliki izin (ilegal).

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Perkim) Kota Mataram, H. M. Kemal Islam menyampaikan, laporan diterima 32 papan reklame telah dipotong sampai bulan Februari 2020. Reklame dipangkas tanpa ada permintaan dari Badan Keuangan Daerah (BKD) karena memang tidak ada pemiliknya.

Iklan

“Memang ini tugas saya dari sisi penertiban dan penataan,” kata Kemal dikonfirmasi, Jumat, 28 februari 2020. Reklame dipotong merata di semua wilayah di Kota Mataram. Kecuali sebut Kemal, reklame menunggak pajak tapi tetap beroperasi ini harus dikoordinasikan dengan BKD dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Dijelaskan, sebelum peralihan kewenangan izin reklame ke DPMPTSP, pengelolaan berada di Dinas Pertamanan (sekarang Dinas Perkim, red). Praktis, data reklame telah dikantongi. Pemasangan reklame baru pun dicocokkan dari laporan yang masuk ke DPMPTSP. Selanjutnya, izin terbit dicocokkan dan cek di lapangan.

“Saya tidak tahu mana yang bodong. Salah satunya diminta ke perizinan mempertanyakan itu,” tambahnya. Reklame yang dipasang sebutnya, apakah izinnya sedang berproses atau sengaja dipasang tanpa mengurus izin.

Ditegaskan Kemal, penertiban reklame sebagai upaya memaksimalkan PAD. Dalam catatan BKD tidak membayar pajak selama dua tahun akan dipotong. “Kenapa harus takut. Kalau sudah dua tahun tidak bayar pajak, dipotong saja,” tegasnya.

Khusus reklame di Perempatan Karang Jangkong sebut Kemal, salah satu reklame bakal dipotong. Senin, 24 Februari 2020 sebenarnya timnya turun membongkar. Tetapi ada keinginan dari pemiliknya mau membayar tunggakan pajak. Sampai saat ini, belum ada kabar sehingga diberikan toleransi sampai hari Minggu, 1 Maret 2020 untuk melunasi kewajibannya. “Kalau tidak bayar kita akan potong,” demikian kata dia. (cem)