Pemkot Mataram Trauma Dikibuli Investor

Mataram (Suara NTB) – Enam investor kembali mengajukan diri mengelola Taman Wisata Loang Baloq di Kelurahan Tanjung Karang. Kini, investor itu tengah melakukan kajian feasibility study. Namun keinginan investor menanamkan modalnya tak membuat Pemkot Mataram untuk segera mengapresiasi, sebab kejadian beberapa tahun lalu membuat pemkot trauma akibat dikibuli investor.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Drs. H. Abdul Latief Najib mengaku, ada beberapa investor telah membuka komunikasi untuk mengelola Taman Wisata Loang Baloq. Tetapi, ia tidak hanya menerima niatan dalam pembicaraan. Tentu sejauh mana keseriusan dalam mengelola dengan pengajuan secara tertulis yang selanjutnya akan minta diekspose.

Iklan

Pada proposal pengajuan kerjasama itu, pihaknya akan memberikan garis besar. Pertama, pengelolaannya ini nanti pemerintah berharap mereka mengakomodir kepentingan sekitar. Kedua, fungsi – fungsi sosial masyarakat jadi titik tekan. Kemudian, karena Loang Baloq pada posisi berdekatan dengan destinasi wisata religi harus jadi atensi.

“Jangan sampai kita beri kelola, kemudian investor semau – maunya,” ujarnya, Kamis, 7 September 2017.

Latief berharap, investor paling tidak mensurvei dulu. Sebab, prinsip kerjasama ini paling tidak, saling menguntungkan. Artinya, tidak cukup hanya semangat saja untuk mengelola, tetapi harus disertai keinginan kuat.

Ia menegaskan, gagalnya pengelolaan sejumlah aset pemerintah oleh pihak ketiga jadi catatan, sehingga pihaknya mengedepankan prinsip kehati – hatian agar tidak dikibuli kembali oleh pengusaha. “Prinsip kehati – hatian itu penting dan juga kultur masyarakat sekitar juga harus dilihat,” tambahnya.

Karena Loang Baloq lokasinya berdekatan dengan wisata religi akan jadi titik tekan, sehingga konsep pengelolaan destinasi ke arah rekreasi dan edukasi. Edukasi dimaksud, ia berharap rindang pohon dijadikan edukasi dan digunakan pelajar sebagai lokasi kegiatan pramuka. Selaint itu, spot di pantai bisa untuk banana boat dan dorong flying fox.

Artinya, konsep dibangun untuk pengembangan Loang Baloq tidak membangun fisik. “Kalau flying fox tinggal meluncur ke pantai. Paint ball bisa dibuat bekas ban, drum, dan sebagainya,” terangnya.

Sekretaris Daerah Kota Mataram, Ir. H. Effendi Eko Saswito menjelaskan,kewenangan pengelolaan aset daerah telah diserahkan ke masing – masing satuan kerja perangkat daerah. Termasuk Taman Wisata Loang Baloq sudah ada investor yang berminat untuk mengelola. Sekarang ini,investor tengah mempersiapkan feasibility study. Hasilnya nanti mereka akan coba menawarkan dan memaparkan ke Pemkot Mataram.

Dikatakan, Loang Baloq ini memang merupakan daerah wisata sehingga konsepnya nanti tidak jauh dari itu. Kemungkinan pihak ketiga ini ingin membangun hotel atau akomodasi wisata lainnya. Pemkot Mataram sambungnya, memang membutuhkan akomodasi di kawasan itu untuk mengembangkan daerah selatan yang terkoneksi Pemkab Lombok Barat. “Insya Allah, bulan depan ini sudah masuk konsepnya dan kami sudah ada pertemuan dua kali,” akunya.

Di tahun 2014, Pemkot Mataram sempat mengerjasamakan lahan di Loang Baloq dengan Mataram Sunset Beach. Sayangnya, pembangunan hunian mewah lima lantai itu batal setelah tidak ada kejelasan investor untuk mengembangkan kawasan tersebut. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional