Pemkot Mataram Tolak Tampung Pengungsi Ahmadiyah Asal Lombok Timur

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram, akan menolak menampung pengungsi warga Ahmadiyah pasca insiden pengerusakan rumah di Sakra, Kabupaten Lombok Timur.

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang menyampaikan, skenario disiapkan dari hasil komunikasi dengan staf kepresidenan. Pertama, warga Ahmadiyah disebar ke Rusunawa. Kedua, dibuatkan perumahan khusus. Terakhir, dikirim ke satu daerah menjadi transmigran.

Iklan

Tiga alternatif ini untuk memastikan bahwa warga Ahmadiyah tidak dalam posisi mengungsi.

Terkait dengan persoalan di Kabupaten Lombok Timur dikatakan Martawang, Pemkot Mataram mengharapkan kasus ini jadi bias, sehingga harus dihadapi dengan bijak.

Kalaupun warga Ahmadiyah di Lotim akan diungsikan. Pemkot Mataram posisi menolak. Sebab, persoalan dihadapi saat ini saja belum selesai.

“Bagaimana mau diterima. Yang ini saja belum kita belum selesaikan. Masa mau nambah lagi,” ucapnya.

Tidak ada pengamanan khusus diberlakukan bagi warga di Transito. Kondisi masyarakat relatif aman dan nyaman. Dia meyakini bahwa warga Kota Mataram menghormati dan menghargai. Tetapi tidak menutup kemungkinan aparat keamanan akan memantau secara khusus.

Terhadap tiga opsinya disampaikan Martawang. Warga Ahmadiyah di Lingkungan Majeluk, Kelurahan Pejanggik, menolak rencana Pemkot Mataram tersebut.

Koordinator Pengungsi Ahmadiyah, Sahidin menjelaskan, sejak lama pemerintah ingin merelokasi atau memindahkan mereka ke kampung – kampung, rusunawa bahkan di taruh di satu pulau. Faktanya, kenyataan itu hanya wacana belaka.

Menurutnya, menempati rusunawa tidak mudah. Warga dibebankan dengan biaya sewa tiap bulannya.

“Masyarakat di sini makan saja susah. Kalau mau dibuatkan rumah khusus. Iya, silahkan,” katanya, Senin, 21 Mei 2018.

Warga di tinggal di Transito Majeluk sekitar 33 kepala keluarga. Rumah mereka sudah berapa kali di rusak dan hartanya dijarah.  Kalaupun pemerintah mau serius diminta menyelesaikan persoalan yang dihadapi selama 12 tahun.

Sahidin mengomentari kasus yang terjadi di Sakra, Kabupaten Lombok Timur. Ia mengaku prihatin dengan pelaku pengerusakan.

Dia sepakat agar tidak ada penambahan pengungsi. Keberadaan mereka saja di Transito belum bisa diselesaikan oleh pemerintah. (cem)