Pemkot Mataram Kekurangan Alat Pemotong Pohon

Ilustrasi pohon tumbang. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Permukiman dan Kawasan Perumahan Rakyat Kota Mataram baru memiliki tiga alat pemotong pohon di Mataram. Jumlah ini dinilai tak sebanding dengan luas kawasan yang ditangani.

Kepala Dinas Permukiman dan Kawasan Perumahan Rakyat Kota Mataram, H. Kemal Islam mengatakan, untuk satu alat potong pohon di Mataram menangani dua kecamatan.

“Melihat jumlah kawasan pepohonan di Mataram, alat pemotong pohon kita masih kurang,” jelasnya, Rabu, 18  Desember 2019.

Yang menjadi persoalan saat ini adalah Pemkot Mataram harus segera melakukan peremajaan terhadap pohon-pohon yang kiranya dikhawatirkan tumbang saat musim hujan disertai angin kencang.

“Tapi kita akan coba lakukan secara bertahap sampai hari ini,” tandas Kemal.

“Kondisi pohon tumbang tahun ini paling parah, dalam satu hari ketika angin kencang, bisa sampai 10 pohon dan bahkan sampai 23 pohon,” kata Kemal.

Menurutnya, pohon yang tumbang malahan adalah pohon yang masih kuat secara fisik. Sebab, kondisi cuaca hujan disertai angin di pusaran sangat kencang. Sehingga menyebabkan banyak pohon tumbang.

“Terutama kita akan perhatikan pohon-pohon yang rentan tumbang sepeti pohon trembesi. Ini termasuk usia baru, ditanam pada tahun 2000an. Tersebar di Mataram. Dan  itu ada di Jalan Nangka Tohpati, Cakranegara, Perempatan Taliwang sampai di Jalan Ahmad Yani, itu semua ditanam,” jelasnya.

Nanti, lanjut Kemal, untuk pemotongan, Disperkim Kota Mataram mempunyai regu di masing-masing kecamatan.

Untuk satu regu baru bisa menangani dua kecamatan di Mataram. “Nanti 2020 kita akan menangani secara khsusus. Pemotong pohon kita upayakan dari hari Senin sampai Sabtu,” tandasnya.

Belajar dari pengalaman hari akhir pekan kemarin, Disperkim Kota Mataram akan mempihakketigakan pemotongan pohon di Mataram. Karena, melihat jumlah regu penanganan pemotongan pohon tak memadai jika melihat kawasan penanganan regu tersebut.

“Juga nanti rencananya kita akan anggarkan di tahun 2020 sebesar Rp150-Rp200 juta untuk alat ini. Tergantung  di APBD-P, kita minta, kita kan kekurangan tenaga dalam pengeksekusian,” imbuhnya.

Untuk anggaran pengadaan alat pemotong pohon dan jumlah regu ini akan mulai dianggarkan pada tahun anggaran baru 2020 mendatang. Karena, Disperkim menilai tidak bisa bekerja tanpa adanya anggaran. (viq)