Pemkot Mataram Bidik Investasi Rp1,4 Triliun

Pegawai DPMPTSP Kota Mataram tengah melayani pemohon yang mengajukan permohonan izin, Selasa, 25 Februari 2020. Pemkot berjanji mempermudah pelayanan perizinan bagi pengusaha yang menanamkan modalnya. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan target realisasi investasi per kabupaten/kota di tahun 2020. Kota Mataram dipatok target investasi mencapai Rp1,4 triliun lebih. Pelayanan perizinan akan dipermudah untuk menarik investor menanamkan modal.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram, Irwan Rahadi menjelaskan, pemerintah telah memutuskan penetapan target investasi yang dilakukan secara nasional. Penentuan ini dinilai bagus. Sebab, daerah tidak asal-asalan menyebut nilai investasi tetapi tidak memungkinkan untuk terpenuhi.

Iklan

Di tahun 2020, target investasi Kota Mataram Rp1.454.134.425.415. Target itu berdasarkan realisasi di tahun 2019 lalu mencapai Rp850,2 miliar lebih. Dengan rincian penanaman modal asing Rp136,1 miliar dan penanaman modal dalam negeri Rp714 miliar lebih.

“Artinya, target investasi sudah ditetapkan secara nasional. Kita tidak hanya bermimpi target sekian. Tapi tidak bisa terpenuhi,” katanya ditemui, Selasa, 25 Februari 2020.

Untuk menarik pengusaha berinvestasi di Mataram. DPMPTSP memberikan kompensasi kepada pengusaha menjamin mempermudah pelayanan perizinan. Kedua, perbaikan standar operasional prosedur (SOP) pelayanan. Pihaknya akan menyederhanakan proses perizinan.

Irwan mengakui, perubahan sistem OSS sedikit menghambat pelayanan administrasi. Contohnya, pelayanan pendaftaran lambat sejak dimulai awal Januari 2020 lalu.  Di internal DPMPTSP juga melakukan penyesuaian pelayanan publik akibat pembaharuan sistem tersebut.

“Kami membuka ruang berkomunikasi jika ada hal-hal yang perlu disikapi karena perubahan sistem yang menghambat pelayanan perizinan,” tandasnya.

Pertumbuhan investasi di Kota Mataram terkesan melambat, dibantah Irwan. Progres investasi akan terlihat pada setiap triwulan. Irwan memahami bahwa, pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan investasi.

Saat ini, ada perubahan mendasar dalam arahan kebijakan pembangunan di NTB khususnya di Pulau Lombok. Sekarang ini menggeliat investasi terpusat di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika.

Sementara posisi Mataram sebagai ibukota provinsi notabene sebagai penyangga tetap akan berdampak positif terhadap KEK Mandalika. Tetapi, pertumbuhan tidak signifikan jika dibandingkan dengan posisi daerah selatan Kabupaten Lombok Tengah.

Namun demikian, pemkot terus memacu dan mengajak investor ke Mataram. “Kalau melambat sih tidak. Investor ada yang sudah menyatakan kesiapannya dan sekarang dalam proses,” tambahnya.

Saat ini, dua hotel mulai dibangun di Jalan Udayana dan Jalan Langko, Ampenan. Sedangkan, investasi lainnya dalam proses pemenuhan persyaratan. Dia mengharapkan, investasi yang dikerjasamakan dengan pemerintah seperti pembangunan Pasar Kebon Roek turut mendongkrak nilai investasi.

Ada indikasi investor wait and see meskipun keran investasi telah dibuka. Hal ini dipengaruhi oleh tahun politik. Mataram merupakan salah satu daerah yang menyelenggarakan Pilkada. Pengusaha lokal lebih selektif terhadap investasi yang mau dikerjakan. (cem)