Pemkot Cari Formulasi Perdamaian Permanen Monta

Mataram (Suara NTB) – Konflik antara masyarakat Monjok – Karang Taliwang (Monta) kembali pecah. Padahal, belum lama ini telah disepakati perjanjian damai antar kedua belah pihak. Perselisihan kedua lingkungan itu, tengah dicarikan formulasi perdamaian permanen.

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang menjelaskan, kesepakatan damai dilakukan antara Lingkungan Peresak dan Asahan diperlakukan sama seperti penanganan konflik di Monjok dan Karang Taliwang. Rupanya, perselisihan kembali pecah karena masih ada sisa persoalan yang menyebabkan tersulut emosi warga oleh provokasi tidak jelas asal usulnya.

Iklan

Hasil mediasi pertengahan Oktober lalu, memang ada rekomendasi untuk membangun posko permanen. Pembangunan posko itu melihat provokasi yang begitu masif. Fenomenanya cukup jelas, ada aparat berjaga tidak ada keributan. Tetapi, begitu ditarik aparat, konflik pecah meski tidak tahu asal usulnya.

“Masyarakat juga tidak tahu aksi provokasi itu. Cuma akhirnya ada faktor sisa – sisa konflik itu ketika lewat ke Taliwang seolah – seolah asalnya di Monjok, demikian pula sebaliknya,” paparnya, Senin, 23 Oktober 2017.

Padahal, kata dia, tidak ada satupun yang memberikan kepastian, melainkan saling tuduh. Oleh karena itu, Pemkot Mataram sedang mencarikan solusi lebih permanen terhadap hal itu. Tetapi secara fisik persoalan posko sudah diselesaikan. Tapi lebih urgen dari itu bagaimana di antara masyarakat tidak saling mencurigai.

Polanya, pemerintah bersama aparat keamanan masuk ke dalam memahami persoalan mendasar, sehingga melahirkan alternatif solusi.

Solusi dinilai baik yaitu infiltrasi di dalamnya. Artinya, Pemda, Kepolisian dan TNI, lebih masuk ke dalam untuk memahami secara mendalam substansi secara keseluruhan. “Tidak cukup kesepakatan ditandatangani, tapi harus lebih progesif lagi,” katanya.

Perdamaian sebelumnya, warga menyepakati menindak tegas provokator. Tindakan itu adalah pilihan terakhir. Aparat meminta melakukan sweeping. Upaya sweeping adalah jangka pendek.

Ia mensinyalir ada kelompok yang sengaja mengganggu kenyaman dan keamanan dua lingkungan itu. Kendalanya, provokator tidak bisa ditangkap secara langsung.

Disinggung soal anggaran yang menjadi persoalan lain di luar konflik. Martawang secara diplomatis menjawab, persoalan anggaran penting mencari cara menyelesaikan kendala anggaran. Pemerintah harus tunduk terhadap kebijakan maupun aturan penggunaan anggaran. (cem)