Pemkot Belum Sanggup Atasi Sampah Dekat Pasar Selak

Mataram (Suara NTB) – Tumpukan sampah di dekat Pasar Selak atau Jalan Pasar Bertais, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya hingga kini belum bisa ditangani Pemkot Mataram. Salah satunya ialah karena terkendala lahan yang bisa dijadikan TPS resmi. Karena pinggir jalan yang djadikan tempat membuang sampah tersebut merupakan TPS liar.

Camat Sandubaya, Lalu Syamsul Adnan, S.STP kepada Suara NTB menyampaikan sampah di TPS liar tersebut kebanyakan berasal dari sampah pedagang Pasar Selak. Ia menyampaikan pada awalnya telah terjalin kerjasama antara Pemkot Mataram dengan pengelola pasar terkait penyediaan lahan untuk menampung sampah pasar.

Iklan

Sayangnya hingga kini kerjasama tersebut belum bisa terealisasi. “Sehingga para pedagang di lokasi itu akhirnya membuang sampahnya di pinggir jalan itu. Itulah sampai saat ini yang belum bisa tertangani,” ujarnya. Untuk itulah menurutnya perlu ada revisi perjanjian kerjasama antara kedua belah pihak sehingga persoalan sampah di kawasan tersebut bisa tuntas dan tak lagi dikeluhkan warga karena kenyamanannya terganggu.

Menurut Syamsul ada lahan yang telah disiapkan pihak swasta yang mengelola pasar tersebut sekitar dua are. Namun kemudian lahan tersebut dijadikan lokasi pembangunan kantor pengelola pasar. Dan menurutnya hingga saat ini belum ada lahan pengganti untuk menampung produksi sampah para pedagang.

“Sebenarnya sudah jalan rencana kerjasama itu, hanya belum terealisasi penyiapan lahan itu,” ujarnya.

Ia juga mengatakan pihak pengelola pasar telah diminta menyiapkan kontainer, namun belum diketahui apakah telah dilaksanakan atau belum. Syamsul mengatakan pihaknya juga kerap berkoordinasi dengan Dinas Kebersihan terkait persoalan ini. Dan dari Dinas Kebersihan sendiri ingin tumpukan sampah tersebut dikelola di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya.

“Sebenarnya kalau daya angkutnya maksimal bisa langsung ke TPST itu dan dibuat pola secara terpadu, mana yang masuk proses pembakaran dan mana yang akan dipilah,” jelasnya.

Syamsul mengaku sangat sering mendapat keluhan dari warganya baik melalui kepala lingkungan maupun lurah. Namun yang paling sering ialah mendapat keluhan dari para pengguna jalan. Pasalnya wilayah tersebut merupakan kawasan ramai lalu lintas juga kerap dilalui bus yang mengangkut penumpang dari dan ke Pulau Jawa.

“Karena memang sangat mengganggu dan kondisi saat ini hampir 100 meter dan sepanjang jalan. Harus pakai alat berat juga karena kubikasinya terlalu besar,” jelasnya. (ynt)