Pemkot Batasi Pasokan Telur dari Luar NTB

Stok telur dari luar NTB masih melimpah di sejumlah pengusaha, termasuk di gudang salah satu pengusaha di Mataram, Senin, 15 November 2021. Sepekan terakhir tingkat pembelian sedikit menurun.(Suara NTB/Jun)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram kembali membatasi pasokan telur dari luar Provinsi NTB. Langkah tersebut diambil agar produksi telur peternak lokal terserap di pasaran. Namun demikian, peternak diingatkan untuk bisa bersaing secara sehat dari sisi penetapan harga penjualan.

Kepala Distan Mataram, H. Mutawalli kepada wartawan, Senin, 15 November 2021 mengaku tidak berani mengeluarkan rekomendasi untuk menerima pasokan telur dari luar provinsi dalam jumlah yang besar. “Hanya 5 ton, ndak berani banyak karena protes pengusaha di sini,” cetusnya.

Iklan

Terakhir ada sekitar 15 ton telur yang dipasok dari luar NTB. Hanya saja, tak diketahui jelas peredarannya, apakah di Mataram atau juga beberapa daerah lain di Pulau Lombok.

Hari ini, lanjut dia, ada permohonan baru dari sejumlah pengusaha lokal, tetapi pihaknya belum berani menyetujui karena harus memastikan terlebih dahulu stok telur di lapangan. Jika memang masih cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, maka terpaksa ditunda sementara waktu. “Tapi kalau ini sudah kurang, kita masukkan lagi,” ujarnya.

Dikatakan Mutawalli, kebanyakan peternak ayam petelur berasal dari luar Kota Mataram. Seperti Lombok Barat, Lombok Timur dan KLU. Karenanya, ketika mereka meresahkan anjloknya harga penjualan telur, semestinya mengeluh ke instansi teknis terkait di daerah masing-masing. Bukan justru ke Distan Mataram yang notabene hanya berwenang mengawasi tata niaga stok dan kebutuhan telur di wilayah kota.

Meski di luar tanggung jawab pihaknya, namun mengingat statusnya sebagai aparatur sipil negara tentunya harus ikut memperhatikan kondisi peternak lokal.

“Caranya adalah membatasi. Kalau saya mau tanda tangan semuanya bisa melimpah. Perusahaan di Mataram ini ada 10-an, mintanya juga banyak-banyak sampai 1 juta butir. Peternak di Mataram ada, tapi di bawah lima dan produksinya juga kecil,” jelasnya.

Mengingat pembatasan pasokan telur dari luar provinsi ini merupakan upaya pemerintah agar produksi telur lokal bisa terakomodir di pasaran. Mutawalli berharap, peternak lokal juga bisa bersaing secara sehat dari sisi harga penjualan.

Harga telur impor saat ini kisaran Rp35-Rp38 ribu per tray. Sementara telur lokal ukuran standar Rp40 ribu per tray, sedangkan ukuran besar bisa di atas harga tersebut. Kondisi ini termasuk salah satu alasan pengusaha lokal meminta pasokan telur dari luar Provinsi NTB. “Harga telur lokal kita lebih mahal Rp2.000-Rp3.000 dari telur yang masuk dari luar. Makanya kita berharap peternak kita juga kalau ada space keuntungan bisa bersaing secara sehat,” pungkasnya. (jun)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional