Pemkot Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19 di Sekolah

H. Mohan Roliskana. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dimulainya pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah-sekolah Kota Mataram diharapkan tetap memperhatikan protokol kesehatan (prokes) ketat. Terlebih PTM yang telah dihentikan sejak Maret 2020 akan dibuka mulai Senin, 16 Agustus 2021 mendatang, mengikuti penurunan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dari level empat menjadi level tiga.

“Kita perlu bicarakan lagi skenarionya seperti apa. Meskipun memang memungkinkan untuk kita melakukan (memulai PTM, Red) itu, tapi saya harus memastikan bahwa pelaksanaan tatap muka harus betul-betul dengan prokes yang ketat,” ujar Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, Jumat, 13 Agustus 2021.

Iklan

Ditekankan, prokes ketat yang dimaksud tidak hanya melingkupi proses antar-jemput maupun saat peserta didik berkegiatan di sekolah. Melainkan juga skenario untuk kegiatan tim pengajar maupun perangkat lainnya yang ada di sekolah.

“Bisa diatur harus sistem sif atau bagaimana, itu kita perlu bicarakan. Memang dari Dinas Pendidikan meminta (agar PTM dimulai) minggu depan, tapi kita perlu persiapkan dengan matang dulu,” jelas Mohan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, H. Lalu Fatwir Uzali melalui surat edaran nomor 423.5/0369/Disdik.C1/VIII/2021 menyebutkan, pembelajaran tatap muka akan dimulai pada Senin, 16 Agustus 2021. Rencana tersebut akan dievaluasi lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan.

Kegiatan pembelajaran tatap muka secara terbatas dan terkontrol di satuan pendidikan dapat dilaksanakan dengan pengaturan untuk SD/SMP reguler jumlah peserta didik yang dapat dihadirkan di sekolah maksimal 50% dari kapasitas ruang kelas.

Sementara untuk satuan pendidikan jenjang PAUD, jumlah peserta didik yang dapat dihadirkan di sekolah maksimal 33% dari kapasitas ruang kelas dengan menjaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal lima peserta didik per kelas.

“Jadwal dan durasi waktu pembelajaran ditentukan oleh satuan pendidikan masing-masing. Jika ada warga satuan pendidikan yang sakit atau daya tahan tubuh lemah atau menurun atau dengan alasan dan pertimbangan tertentu dari orang tua/wali peserta didik tidak boleh beraktivitas di sekolah disarankan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah,” jelas Fatwir.

Fatwir juga menekankan, agar tenaga pendidik tetap memfasilitasi peserta didik yang tidak boleh beraktivitas di sekolah dengan melakukan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna melalui moda daring atau online sesuai dengan kondisi peserta didik.

“Seluruh warga sekolah yang melaksanakan aktivitas di satuan pendidikan wajib mematuhi dan melaksanakan protokol kesehatan seperti disiplin menggunakan masker (masker kain 3 (tiga) lapis atau masker sekali pakai/masker bedah yang menutupi hidung dan mulut sampai dagu.

Mencuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan air mengalir atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer) yang dilakukan sebelum dan sesudah beraktivitas, menjaga jarak/menghindari kerumunan, tidak melakukan kontak fisik seperti bersalaman dan cium tangan,” tandasnya. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional