Pemkab KLU Tanggapi Keluhan Soal Dugaan Pungli di Obyek Wisata

Tanjung (Suara NTB) – Salah satu obyek wisata terkenal di KLU, yakni Air Terjun Sindang Gila, Desa Senaru, Kecamatan Bayan menjadi sorotan. Ini terjadi setelah beredarnya protes sejumlah pengguna media sosial yang diduga menjadi korban pungli di kawasan tersebut.

Melalui akun Facebook, baru – baru ini, sejumlah pengguna mengungkap isu Pungli di kawasan wisata favorit itu. Beberapa pemilik akun menyoroti persoalan ini, seperti Arif Bello dan Muhammad Aufa Hamdan. Keduanya sama-sama mengeluhkan dan mempertanyakan tarif mahal yang dipatok oleh oknum setempat dari pengunjung.

Iklan

“Apa benar ya tiket masuk di Sendang Gile Rp 30. Ribu/paxnya sekarang? Terus fee Guide diminta Rp 220 ribu. Ada saudara 6 orang maen ke situ, total biaya buat masuk dan guide Rp 400 ribu? Waduuh..” tulis Arif Bello.

Pemilik akun medsos lainnya juga mengungkap persoalan serupa. “Baru pergi Sabtu lepas..2 orang kena Rp 400.000. Kalau sambung ke Tiu Kelep total jadi Rp 550.000. Sebab dah sampai, terpaksa terima saja. Saya cakap dengan guide, kalau saya tahu harga begini, x (tak) jadi saya datang,” sambung Muhammad Aufa Hamdan di kolom pembicaraan yang sama.

Kades Senaru, Isa Rahman yang dihubungi via telepon belum dapat dikonfirmasi terkait persoalan ini.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata KLU, H. M. Muhadi, SH, kepada wartawan menegaskan, dugaan pungli di kawasan wisata Senaru itu harus disikapi tegas. Pasalnya, untuk tiket masuk ke destinasi wiasata air terjun Sindang Gila, sudah jelas yakni sebesar Rp 10 ribu bagi pengunjung asing dan Rp 5 ribu bagi pengunjung domestik. Masing-masing besaran tersebut sudah termasuk dalam komponen dana retribusi masuk kawasan wisata yang ditetapkan sesuai Perda No. 2 Tahun 2010, dengan ketentuan Rp 5 ribu bagi Wisman dan Rp 2 ribu bagi Wisdom.

  Pascapecah Kongsi F-PKN, DPRD KLU Dijamin Tetap Utuh

“Kalau (penarikan) Rp 30 ribu, itu tidak benar, itu jelas pungli, bisa bahaya (bagi citra obyek wisata, red),” kata Muhadi.

Diakuinya bahwa keluhan semacam ini sudah sering terdengar. Namun hingga kini memang belum terbukti. Ia berharap, korban pungli segera melaporkan persoalan ini ke Pemda maupun lembaga vertikal terkait, seperti kepolisian sehingga bisa ditindaklanjuti.

Meski demikian Muhadi menyebut, kabar yang mencuat menurut status pemilik akun facebook harus diwaspadai. Menurutnya, pemilik akun besar kemungkinan memang mengalami pungli yang dilakukan oknum. Ia menganggap, kecil peluang bagi pemilik akun (resmi) memuat status hanya untuk sekadar iseng apalagi menjatuhkan citra obyek wisata tertentu.

“Memang sekarang ini Tim Penertiban masih fokus di Pelabuhan Bangsal yang dianggap sebagai titik rawan. Kita akan tertibkan pungli-pungli ini untuk semua kawasan,” cetusnya. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here