Pemkab Dompu Cari Jalan Jauhkan Petani dari Jeratan Rentenir

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Pertanian TPH Dompu, Ir. H. Fakhrurrozi mengemukakan, di tahun 2016 ini pihaknya telah mencatat luas areal tanaman jagung di Dompu mencapai sekitar 38.546 hektar. Menurutnya, beberapa waktu lalu tim dari Kementerian Pertanian juga telah meninjau langsung ketersediaan jagung di Dompu.

Fakhrurrozi menuturkan, lonjakan jumlah areal tanam jagung di Dompu dimulai sejak tahun 2010 dan 2011. Dari awalnya hanya 6.000 hektar luas areal tanamnya, tahun 2016 ini telah mencapai 38.000 lebih berdasarkan data BPS.

‘’Tapi sebenarnya kenyataan di lapangan itu lebih dari itu, karena lahan yang masuk HKm kami tidak mendatanya,’’ ujarnya. Ia memperkirakan, luas areal tanaman jagung di Dompu saat ini sudah menembus angka 40.000 hektar.

Di masa mendatang, pihaknya sudah akan mulai menyiasati agar areal tanam tidak lagi menjadi persoalan. ‘’Kami merencanakan lebih kepada intensifikasinya untuk memaksimalkan lahan-lahan yang sudah ada,’’ ujarnya.

Intensifikasi bisa dilakukan dengan mengalihkan komoditas tertentu ke jagung. Misalnya, jika di musim kemarau petani menggunakan lahan sawahnya untuk menanam kedelai, maka kini bisa saja dialihkan untuk menanam jagung.

Hal ini akan diupayakan sembari menambah luas areal jagung hingga mencapai kisaran 41.600 hektar pada tahun 2021 mendatang.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Dompu, H. Supardi, S.Sos menegaskan, di tahun 2016 ini pihaknya berupaya mendorong agar aparatur desa bisa ikut mengarahkan semua petaninya memanfaatkan lahan kering untuk menanam jagung.

Strategi yang ditempuh pihaknya adalah dengan mendorong agar Badan Usaha Milik Desa (BUMD) ikut membantu petani dalam pembiayaan kebutuhan di masa tanam. Supardi mencontohkan, untuk kebutuhan pembersihan, penanaman lahan dan kebutuhan lainnya, petani biasanya mengajukan dana sekitar Rp 15 juta ke bank. Namun, jumlah pembiayaan yang dicairkan oleh bank biasanya tidak sebesar itu. Seringkali pembiayaan yang dikucurkan bank hanya mencapai Rp 6 juta hingga Rp 7 juta.

Menghadapi kondisi ini, petani seringkali menyiasati kekurangan modal itu dengan meminjam uang dari rentenir. Supardi menilai, jika BUMD bisa mengambil peranan, maka petani tidak lagi perlu meminjam uang di rentenir.

“Sehingga BUMDes ini berperanan untuk membantu kekurangan-kekurangan dana yang dibutuhkan oleh petani di lahan kering ini. Sehingga mereka tidak lagi melalui rentenir-rentenir sehingga akan mencekik petani-petani jagung kita dalam mengelola lahannya,” ujar Supardi.

Ia menegaskan, untuk kebutuhan itu, tahun ini masing-masing BUMDes di Dompu telah dibekali dengan dana desa sebesar Rp 50 juta. “Dan tahun ini pula, ada 20 BUMDes dibantu oleh pusat, Kemendes,” pungkasnya.

Plh. Kadis Pertanian Provinsi NTB, Ibnu Fikhi menyarankan perlunya Kabupaten Dompu memperjelas penanganan masalah-masalah pembagian peruntukan lahan tanam.

Sebab, menurutnya, saat ini Dompu mulai berhadapan dengan persoalan pembagian lahan ini. “Jadi lahan kalau dimanfaatkan untuk jagung 41 ribu tahun 2021, pertanyaan kami, bagaimana dengan komoditas yang lain,’’ tanyanya.

Padahal, ujar Fikhi, sejumlah komoditas pertanian lainnya juga perlu dikembangkan di Dompu. Misalnya, untuk cabai rawit, cabai besar yang kerap kali keterbatasan pasokannya menjadi penyumbang inflasi. Selain itu, Ibnu Fikhi juga menilai dua komoditas ini bisa menghasilkan keuntungan cukup besar bagi petaninya.

Terkait persoalan pupuk yang sempat diutarakan Bupati Dompu di awal diskusi, Fikhi mengaku hal ini memang masih menjadi kendala. Menurutnya, pelaporan jatah kuota pupuk dari NTB ke pemerintah pusat memang masih tergantung pada RDKK yang diajukan dari kabupaten/kota. ‘’Kami tidak tahu di provinsi, apakah itu lahannya di lahan marginal ataukah lahannya sudah ditetapkan lahan padi sawah dan sebagainya,’’ ujarnya.

Soal harga jagung, menurut Fikhi memang masih membutuhkan perhatian khusus. Fikhi menuturkan, tahun 2015 kemarin, saat ke Dompu pihaknya sempat dihadang oleh masyarakat karena saat itu harga jagung sedang anjlok. Mendapati fenomena itulah pihaknya mulai mendorong agar dilakukan penetapan harga jagung secara nasional. Dorongan ini kemudian diikuti dengan terbitnya ketentuan Kementerian Perdagangan tentang harga jagung.

“Dan sebenarnya juga kita menginginkan dari Dinas Pertanian semua harga itu bisa seperti harga jagung ini di patok. Ini yang kita inginkan dan ini yang akan kita coba. Bagaimana harga jagung dan komoditas lain bisa kita tetapkan oleh pusat,’’ pungkasnya.

Kabid Pengelolaan Lahan Dinas Perkebunan NTB, Ramlan Yugiharto menilai, upaya mengembangkan komoditas tebu yang sekarang sedang dilakukan di Dompu memang tidak saja hanya akan menghasilkan pengalaman manis. “Tetapi ada pahitnya juga,” selorohnya.

Ramlan mengemukakan, berdasarkan penilaian pihaknya, Dompu dan daerah-daerah lain di NTB tidak hanya memiliki potensi untuk tanaman tebu saja.

‘’Dari tahun 1980 di sana ada  jambu mete dan Pak Bupati sudah tahu itu.  Kemudian komoditi lainnya seperti kelapa, bahkan tembakau  sudah ada di situ seperti tembakau rakyat,’’ ujarnya.

Saat ini, menurut Ramlan, pihaknya tengah mencoba mencermati potensi pengembangan komoditas tembakau dan kemiri di Dompu. Hanya saja, menurut Ramlan, saat ini komoditas yang sedang menjadi tren di Dompu memang adalah jagung.

Untuk komoditas tebu, Ramlan berharap semakin luasnya areal tanam bisa berimplikasi pada terpenuhinya kapasitas produksi pabrik tebu di Dompu. Ia mengakui, salah satu kendala yang dihadapi saat ini adalah masih terbatasnya sarana transportasi. ‘’Kami mendengar informasi dari PT SMS nampaknya transportasi yang ada di sana itu terbatas. Truk yang ada dipakai sekitar lima unit, sementara yang diharapakan minimal dua ratus unit,’’ ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan pabrik sementara ini, satu truk bisa memuat hingga lima ton tebu. Dalam sehari, mereka bisa mengangkut tebu sebanyak dua kali. Ramlan berharap sekaligus optimis, dengan komitmen Bupati Bambang M. Yasin, persoalan-tantangan dan kendala yang dihadapi bisa diselesaikan satu persatu.

“Mungkin kami dari pihak provinsi memberikan potensi, dan mudahan berjalan dengan lancar,” ujarnya. (tim)