Peminat Ikan Koi Meningkat di Masa Pandemi

Seorang anak bermain dengan ikan koi yang dipelihara. Selain sebagai wahana menenangkan diri, ikan koi juga memiliki prospek bisnis.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pecinta ikan koi bertumbuh. Apalagi di tengah pandemi corona, di mana sebagian besar aktivitas orang dilakukan dari rumah. Koi bisa menjadi alternatif bisnis di masa pandemi Covid-19 ini. ikan yang sering ditemui sebagai penghuni kolam taman karena keindahan warna dan motif di badannya. Ikan ini bahkan dipercaya sebagai lambang kehokian.

Tak hanya dinikmati keindahannya, ikan koi juga memiliki nilai bisnis yang tinggi. Saat ini banyak bermunculan pebisnis pada komoditi ini. Rudi Rosantoro beberapa tahun terakhir menggeluti budidaya ikan koi. Brach Manajer salah satu perusahaan pembiayaan swasta nasional ini bahkan telah memiliki penangkaran untuk memudahkan mereka yang membutuhkan ikan khas Jepang ini.

Iklan

Penangkaran memanfaatkan fasilitas tempat tinggalnya di Asia Asri Regency A.6 Jalan Gajah Mada Jempong Baru Kota Mataram. Dari hobi, menjadi potensi bisnis. Permintaan ikan koi terus naik, selain di Kota Mataram, juga dari Kabupaten Lombok Timur. Biasanya tempat-tempat subur air dimanfaatkan untuk memelihara ikan jenis nila. “Dari Lotim itu banyak yang minta bibit ikan koi.  Yang biasanya melihara ikan nila,” kata Rudi kepada Suara NTB.

Ikan koi adalah jenis ikan hias. Bukan ikan konsumsi. Sebelumnya, ikan koi ini identik dengan kelompok masyarakat menengah ke atas. Tetapi sekarang hampir merata. Jumlah penangkaran ikan koi saat ini masih terbatas di Pulau Lombok. Sementara permintaannya tinggi. Memelihara ikan koi kata Rudi sangat gampang. Paling tidak wadahnya berukuran 1 meter x 1 meter. Yang tak kalah penting, air di wadahnya bergerak, bagus sekali jika dipelihara di air mengalir.

Mengalirkan airnya dalam dilakukan dengan modifikasi menggunakan pompa air. Wadah tempat membudidayakannya juga sebaiknya terpapar cahaya matahari pagi, minimal sejam. Rudi selama ini memanfaatkan komunitasnya untuk berjualan. Koilo, singkatan dari Komunitas Koi Lombok. Selain itu, pemasaran yang paling gampang, murah meriah adalah media sosial. Harga ikan koi ini variatif.

Untuk bibitnya, ukuran 10 cm dijual Rp8 ribu sampai Rp10 ribu. Harga juga tergantung motif. Rudi mengatakan, harga ikan koi bahkan pernah dijual sampai Rp10 juta seekor. Untuk harga global yang diketahuinya, harganya bahkan mencapai Rp28 miliar seekor. Untuk koi asli Jepang. Sebelumnya, Koilo pernah mendorong pemerintah daerah memanfaatkan pelataran Islamic Center sebagai destinasi wisata ikan koi, melengkapi kemegahannya.

“Ada kolam di Islamic Center juga sebetulnya bisa dimanfaakan untuk memelihara koi untuk mendukungnya sebagai destinasi wisata,” ujarnya. Rudi menambahkan, pemerintah daerah juga bisa memanfaatkan lahan-lahan basah untuk memelihara koi. Seperti yang dilakukan oleh pemerintah daerah Blitar, budidaya koi dijadikan program primadona. Selokan-selokan dimanfaatkan sebagai tempat memelihara ikan koi. Layaknya yang dilakukan oleh Jepang. Dampaknya, Blitar jadi destinasi wisata ikan koi. (bul)