Pemerhati Gaharu Dunia Kunjungi Perajin di Danger

Pemerhati gaharu dari berbagai negara saat mengunjungi kerajinan gaharu di Desa Danger, Rabu,  2 Oktober 2019. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Puluhan pemerhati gaharu dari berbagai negara di dunia melakukan kunjungan dan pantauan terhadap perajin kayu gaharu di Desa Danger Kecamatan Masbagik, Rabu,  2 Oktober 2019. Kunjungan ini untuk melihat langsung pengembangan kayu gaharu yang saat ini sudah tembus pasar internasional.

Penanggung Jawab Seminar Internasional, Profesor Suryahadi, menjelaskan kunjungan yang dilakukan ini dalam rangka mencover dan mengintegrasikan semua pemangku kepentingan secara internasional untuk penelitian pengembangan dan pemanfaatan tumbuhan gaharu.

Iklan

Peserta seminar atau simposium ini dari berbagai negara di dunia ini untuk melihat penanaman, budidaya dan pengolahan gaharu di beberapa tempat di Indonesia, termasuk di Desa Danger. Peserta berasal dari berbagai negara di antaranya, Jepang, Malaysia, Srilanka, Bangladesh, Uni Emirat Arab dan Indonesia.

Dipilihnya Desa Danger merupakan salah satu desa yang mengembangkan kerajinan gaharu. Masyarakat setempat memanfaatkan gaharu budidaya sebagai penopang perekonomian. Setidaknya dari kunjungan ini akan terus dilakukan penelitian agar ke depan lebih banyak lagi produk yang bisa dibentuk dan kembangkan, sehingga dijadikan home industry.

Dijelaskannya, pohon gaharu merupakan salah satu pohon yang cukup dikenal masyarakat Indonesia. Galih dari pohon gaharu memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Bahkan minyak dari galih pohon ini tidak kalah mahalnya. Hal itu seiring dengan manfaat dari kayu gaharu cukup banyak, mulai dari daun dan batangnya. Untuk batangnya dijadikan sebagai pengharum ruangan, dupa. Sementara untuk daunnya dapat dijadikan teh kesehatan.

Kepala Desa Danger, Kaspul Hadi, mengatakan kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang dilakukan beberapa waktu lalu di Mataram. Kunjungan ini untuk melihat kerajinan dan pengolahan kayu gaharu yang ada di Desa Danger yang masuk dalam program badan usaha milik desa (BUMDes). Ke depan pelatihan kepada pemuda atau pengrajin yang dilakukan, sehingga hasil kerajinan dapat lebih baik dalam memenuhi permintaan dari berbagai negara sahabat.

  Gagal Melaju di LIDA, Begini Upaya Manajemen Soal Karir Gita ke Depan

Untuk bahan baku kayu gaharu didapatkan secara lokal dari Desa Danger, Lombok Tengah, Pulau Sumbawa bahkan Kalimantan dengan berbagai jenis. Namun yang diolah oleh pengrajin di Desa Danger merupakan gaharu budidaya dengan bekerjasama dengan para petani gaharu. “Dari kunjungan ini kita harapkan mendapat support, sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat di Desa Danger,” jelasnya.

Ketua Pengrajin Gaharu di Desa Danger, Mansyur, mengaku merintis usaha ini dari nol. Awal mula melihat peluang usaha ini saat ia bersama keluarganya menjadi warga transmigran ke Kalimantan. Dikatakannya, usaha gaharu memang cukup menjanjikan, keuntungan bersih yang didapat setiap bulan mencapai sekitar Rp50 juta. Namun untuk pengiriman terkadang dilakukan tiga atau empat minggu sekali.

Akan tetapi, kata dia, memulai usaha ini mengajarkannya untuk bersahabat dengan alam. Untuk mencari gaharu di dalam hutan Kalimantan. Ia harus tinggal di dalam hutan selama tiga bulan dan bertahan hidup dengan bekal yang sudah disesuaikan. Risiko besar itu ia ambil karena melihat peluang usaha gaharu yang kini diraih dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di Desa Danger dan sekitarnya. (yon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here