Pembunuhan Linda Novitasari, Terdakwa Jalani Sidang Perdana

Terdakwa pembunuhan Linda Novitasari, Rio Prasetya Nanda alias Rio berjalan menuju kursi persidangan, Kamis, 25 Februari 2021 saat menjalani sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri Mataram.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Terdakwa pembunuhan Linda Novitasari, Rio Prasetya Nanda menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Mataram, Kamis, 25 Februari 2021. Rio didakwa membunuh kekasihnya dengan cara mencekik. Kemudian mengatur siasat supaya korban disangka meninggal bunuh diri.

Sidang dipimpin ketua majelis hakim Hiras Sitanggang bersama hakim anggota Agung Prasetyo dan Glorius Anggundoro. Jaksa penuntut umum Yulia Oktavia Ading mengajukan dakwaan alternatif. Yakni pasal 340 KUHP atau pasal 338 KUHP atau pasal 351 ayat 3 KUHP. “Mengenai pembunuhan berencana atau pembunuhan yang disengaja, atau penganiayaan yang mengakibatkan meninggal dunia,” ujarnya.

Iklan

Rio anak Kapolsek ini didakwa mencabut nyawa kekasihnya setelah bertengkar hebat pada Kamis 23 Juli 2020 lalu di rumah No.4 BTN Royal Mataram, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram. Sebabnya, terdakwa bersikeras untuk tetap pergi Bali meski korban tidak setuju. “Bermula dari korban yang mendatangi rumah korban. Setelah berbincang-bincang, terdakwa mengajak korban masuk ke dalam kamar untuk berhubungan badan,” kata jaksa yang karib disapa Via ini.

Setelah berhubungan badan, Rio lalu meminta izin untuk pulang kembali ke rumah orang tuanya di Jembe Timur, Desa Saba, Janapria, Lombok Tengah. Alasannya hendak mengantar adiknya Kirana Fadhilah Tsany mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi. “Korban tidak mengizinkan sehingga terjadi pertengkaran mulut. Korban sempat mengancam akan bunuh diri dengan sebilah pisau namun terdakwa dapat merayu korban mengurungkan niatnya,” kata Via.

Terdakwa meminta izin lagi untuk pulang. jawaban korban tetap sama. Walaupun Rio mengaku pergi ke Bali hanya untuk dua hari. Akhirnya terdakwa diam-diam mengemas barang. Lalu berniat kabur di dalam rumah milik ayahnya itu. “Saat akan keluar rumah, korban mengejar terdakwa sambil membawa anak panah dan mengacungkan ke arah terdakwa sehingga terdakwa mengurungkan niatnya untuk pulang,” imbuh jaksa.

Mereka kembali masuk ke kamar. Anak panah disimpan di meja. Rio kemudian ditelpon ibunya yang mendesak agar Rio segera pulang ke Lombok Tengah. mendengar hal itu, korban mengambil lagi anak panah. “Terdakwa lalu merampas anak panah itu sambil mencekik leher korban sampai korban terjatuh dan lemas tidak sadarkan diri,” terang Via.

Rio mulai kelabakan. Dua batang rokok belum bisa menenangkannya. Tapi Rio mendapat ide. “Terdakwa berpikiran membeli tali lalu menggantung korban agar terlihat seperti orang yang bunuh diri,” kata jaksa. Rio kemudian membeli tali sepanjang empat meter seharga Rp16 ribu. Sepulangnya, dia masih sempat untuk memastikan kondisi korban tetap di posisi semula. Setelah yakin, Rio lalu mulai menjebol ventilasi antara dapur dan ruang tengah.

Tali yang dibelinya di kios tadi diikatkan di ventilasi tersebut. Ujung lainnya dibuatkan simpul seukuran kepala manusia. Dalam percobaan pertama, upaya Rio mengangkat korban hingga kepala masuk tali gagal. Percobaan kedua juga sama meski sudah dibantu kursi sofa ruang tengah. Rio lalu mengambil kursi dengan permukaan lebih keras. Cara itu tetap gagal sampai Rio mandi peluh.

Tali yang diikat di ventilasi pun dilepas. Rio memakai cara baru. Tali dimasukkan lebih dulu ke kepala korban. “Terdakwa lalu memegangi perut korban sementara tangan kanannya mengerek tali sampai korban dalam posisi seperti orang bunuh diri,” terang Via. Rio lalu meninggalkan rumah itu dan pulang ke Lombok Tengah. di perjalanan, Rio membuang baju bekas mengelap keringat dan sisa tali di tepi Jalan Lingkar Selatan. Linda ditemukan tergantung oleh temannya pada Sabtu 25 Juli sore.

Via menjelaskan hasil visum pada hari jenazah Linda ditemukan. Yang mana pada intinya terdapat luka lecet tekan akibat kekerasan benda tumpul. Tapi penyebab kematian belum dapat disimpulkan. Jenazah Linda yang sudah dikuburkan digali kembali untuk autopsi. Hasilnya penyebab kematian karena tekanan dan jeratan yang kuat pada leher. “Hal itu menyebabkan oksigenasi tertutup dalam sistem pernapasan dan mengakibatkan mati lemas,” kata Via.

Sementara dari autopsi parsial pada rahim, berat dan ukurannya menunjukkan lebih berat dan lebih lebar dari normal. “Hal ini merupakan tanda-tanda kehamilan,” imbuhnya. Hakim Hiras menanyakan tanggapan Rio atas dakwaan tersebut. “Ya benar, benar,” jawab Rio sambil menunduk. Penasihat hukum Rio, Lalu Rusmat tidak mengajukan nota keberatan. “Karena tidak ada kekaburan, materi dakwaannya tidak ada yang salah. Mengenai isinya, nanti kita lihat fakta persidangan,” ujarnya. Sidang akan dilanjutkan lagi Selasa, 2 Maret 2021 dengan agenda pemeriksaan saksi. (why)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional