Pembunuhan Linda Novitasari, Kejanggalan Kondisi Jenazah Korban

Jaksa penuntut umum Moch Taufik Ismail (kiri) menunjukkan barang bukti kepada saksi Mei Susanti dalam persidangan perkara pembunuhan Linda Novitasari dengan terdakwa RPN, Selasa, 2 Maret 2021 di Pengadilan Negeri Mataram.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Sebanyak lima saksi hadir memberi keterangan dalam sidang pembunuhan Linda Novitasari, Selasa, 2 Maret 2021. Mereka menjelaskan kondisi korban sejak mulai ditemukan meninggal tergantung, proses visum luar, kejanggalan kondisi tubuh korban, dan prosesi pemakaman. Jaksa penuntut umum Yulia Oktavia Ading menghadirkan saksi Ketua RT 13 BTN Royal Mataram L Wahidin, ibu korban Hj Siti Akmal Har, kakak korban Mei Susanti, dan pemandi jenazah Sri Murni dan Herningsih.

Para saksi ini memberi kesaksian di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Mataram yang dipimpin Hiras Sitanggang, dengan hakim anggota Agung Prasetya dan Glorius Anggundoro. Sidang dengan terdakwa RPN. Sri Murni dan Herningsih, dalam kesaksiannya membagi tugas saat memandikan jenazah Linda. Murni bagian kepala hingga perut. Sementara Herni dari bagian perut sampai kaki. Mereka diminta pihak keluarga.

Iklan

Mereka kompak menyatakan tidak menemukan tanda-tanda korban meninggal bunuh diri. Antara lain mata melotot, lidah menjulur dan tubuh kaku. Tetapi tanda-tanda lain yang mereka saksikan. “Ada luka lecet di sekitar matanya. Ada juga luka lebam di bagian ketiak, perut dan sekitar payudara. Ada juga luka lecet di punggung dan leher,” sebut Murni. Sementara Herni mengungkap adanya bekas melepuh di kaki kanan korban.  “Di kaki jenazah saya lihat ada yang terkelupas kulitnya, seperti luka bakar,” ujarnya.

Murni terusik dengan dugaan awal korban bunuh diri. Maka dia memfoto luka dan lebam di tubuh korban. Foto itu kemudian diserahkan ke Mei. Kemudian saksi Mei mengungkap adanya bekas rembesan darah di kain kafan korban. Darah itu merembes dari bagian bokong. Bahkan sampai membekas di kasur saat disemayamkan di rumah duka di Gomong, Mataram. “Di kakinya seperti ada luka disundut rokok. Itu bikin keluarga kami syok,” ucapnya.

Mei menyatakan, kejadian itu membuat pihak keluarga memutuskan untuk meminta autopsi. “Tapi sampai hari ini kami tidak pernah menerima hasil autopsi,” sebutnya. Sebelumnya pihak keluarga meminta korban segera dimakamkan demi menjalankan perintah agama mengenai adab terhadap jenazah. Sebab, kejanggalan itu meyakininya bahwa adiknya yang baru lulus seleksi S2 Hukum Unram ini tidak meninggal bunuh diri. “Saya paham adik saya luar dalam. Saya tidak percaya dia gantung diri,” tegasnya.

Mei juga menyatakan adiknya itu tidak punya gejala wanita hamil. Menurut sepengetahuannya. “Dia setahu saya punya kista sejak tahun 2017,” bebernya. Demikian juga dengan buku diari. Dalam sidang itu ditunjukkan jaksa kepada Mei. Mei mengatakan dia tidak pernah tahu Linda punya diari. “Tulisannya seperti tulisan Linda,” sebutnya.

Sejak meninggalnya Linda, Mei tidak punya firasat pelaku pembunuhannya RPN. Kekasih Linda yang dipacari hampir dua bulan sebelumnya. Sampai-sampai kemudian Linda ditemukan meninggal dengan kondisi tergantung di rumah RPN. “Saya tidak tahu RPN ini sampai dia yang ternyata ditetapkan tersangka waktu itu. Di benak saya waktu itu saya hanya ingin tahu siapa pemilik rumah itu. Bapaknya dia,” kata Mei.

Saksi L Wahidin mengatakan tidak ingat persis siapa yang mendiami rumah itu. Sepengetahuannya rumah itu milik anggota polisi. Ayah RPN berdinas di Polri yang saat itu menjabat sebagai Kapolsek. Saat kejadian, wahidin sempat melihat jenazah korban tergantung di rumah orang tua RPN di Jalan Arafah No. 4 BTN Royal Mataram, Jempong Baru, Sekarbela, Mataram. Hal itu setelah dia mendengar wanita menangis di depan rumah. Wanita itu adalah Titik, rekan Linda.

“Saya lihat dia posisi tergantung. Di BTN itu kan hampir sama semua tipenya, dia itu tergantungnya di ventilasi dapur,” ujarnya. Dia memutuskan untuk memanggil kepolisian untuk mengevakuasi Linda. “Saya tidak perhatikan apakah itu tali atau kain. Yang jelas dia tergantung. Di belakangnya ada kursi terjatuh,” tandasnya. Kemudian saksi Siti Akmal Har mengakui putrinya itu tidak ada kabar sejak izin keluar pada Kamis 23 Juli 2020. “Katanya mau menunggu pengumuman S2 sama temannya,” kenangnya.

Tapi dua hari kemudian. Alih-alih informasi kelulusan yang datang, tetapi berita meninggalnya Linda. “Saya sampaikan ke Bapak, waktu itu baru selesai salat Magrib, Bapak langsung lemas,” kata Akmal yang suaminya pensiunan Polri berpangkat AKBP itu. Dia menyerahkan pengurusan kasus Linda kepada Mei. Sementara setelah RPN ditetapkan tersangka. Ibu RPN mendatangi dirinya untuk meminta maaf dan berbela sungkawa. Tapi rasa kehilangannya tidak dapat ditukar dengan apapun.

“Dia datang tapi saya bilang waktu itu untuk sementara ini kami jangan diganggu,” kata Akmal. Sampai kemarin, keluarga RPN tidak pernah lagi mencoba untuk menemuinya lagi. Terdakwa RPN diajukan ke persidangan dengan dakwaan pembunuhan berencana atau pembunuhan yang disengaja atau penganiayaan yang menyebabkan meninggal dunia. Korbannya kekasihnya sendiri, Linda Novitasari.

RPN mencekik kekasihnya setelah bertengkar hebat. Linda lalu terkulai lemas di lantai. Mahasiwa FH Unram ini kemudian mencari cara untuk menutupi perbuatannya. Dia lalu membeli tali untuk membuat skenario Linda meninggal bunuh diri. Hasil autopsi menjelaskan Linda meninggal karena tekanan dan jeratan yang kuat pada leher sehingga menyebabkan oksigenasi tertutup dalam sistem pernapasan dan mengakibatkan mati lemas. (why)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional