Pembiakan Sapi Sistem Penggembalaan, Kearifan Lokal yang Perlu Segera Direvitalisasi

Prof Dahlanuddin, Ph.D

Mataram (Suara NTB)– Pembiakan sapi dengan sistem penggembalaan seperti lar di Sumbawa dan so di Bima dan Dompu adalah cara menghasilkan pedet atau anak sapi yang paling murah. Sistem ini merupakan kearifan lokal yang sudah berjalan dengan baik dalam waktu yang sangat lama, dan telah menjadi pendukung meningkatnya populasi sapi di Pulau Sumbawa selama puluhan tahun.

‘’Namun sejalan dengan meningkatnya kebutuhan lahan untuk produksi tanaman pangan, eksistensi sistem lar tau so mulai terancam oleh konversi lahan untuk produksi tanaman pangan untuk tujuan non pertanian,’’ ujar peneliti dari Universitas Mataram Prof. Dahlanuddin, Ph.D kepada Suara NTB, Senin, 13 September 2021.

Iklan

Ia mengatakan, daya tampung lahan penggembalaan alam ini juga mengalami penurunan secara drastis akibat dari jumlah ternak yang melebihi daya tampung. Hal ini diperburuk oleh invasi gulma terutama chromolaena odorata dan lantana camara yang secara langsung mengurangi produksi dan mutu hijauan yang tumbuh di lahan penggembalaan komunal.

Keterbatasan jumlah dan mutu pakan dan ketersediaan air minum ternak yang terus menurun sejalan dengan perubahan iklim juga lebih lanjut mengurangi produktivitas ternak itu sendiri. Dampak dari kondisi tersebut yaitu tingginya kematian sapi terutama pedet yang baru lahir dan menurunnya skor kondisi ternak terutama di puncak musim kemarau.

‘’Kalau kondisi ini berlanjut maka daya tampung pada penggembalaan alam akan terus menurun. Di sisi lain, lahan tanaman pangan mulai dimanfaatkan secara intensif di musim kemarau sehingga peternak yang memiliki sapi dalam jumlah banyak kesulitan memelihara ternak mereka di musim kemarau,’’ ujar guru besar yang sangat konsen melakukan riset terkait peternakan sapi ini.

Di musim hujan juga banyak peternak yang harus mengikat sapi mereka di pinggir jalan karena semua lahan dimanfaatkan untuk menanam tanaman pangan. Sementara sistem lar adan so tidak mungkin menampung semua ternak sapi dan kerbau yang ada. Sehingga pemeliharaan sapi dalam skala besar menghadapi persoalan tempat penggembalaan, baik di musim hujan maupun di musim kemarau.

Menurutnya, ada beberapa praktek cerdas yang dilakukan oleh peternak yang memiliki sapi dalam jumlah banyak. Pertama yaitu peternak yang memiliki lahan luas dapat menggunakan lahan pribadi untuk menggembalakan sapi sepanjang tahun. H. Ilham di Kecamatan Maronge, Kabupaten Sumbawa  misalnya, mengembalakan sapi di lahan sendiri seluas sekitar 20 hektare di musim hujan. Ketersediaan dan kualitas pakan di musim hujan cukup memadai sehingga tidak perlu nengeluarkan biaya pakan.

‘’Di musim kemarau, H.Ilham menyewa lahan bekas jagung seluas 20 di sekitarnya untuk melepas sapi selama Juli – Desember, sampai rumput di lahan sendiri tumbuh kembali. Cara beternak seperti ini sangat murah sehingga jauh lebih menguntungkan untuk menghasilkan pedet dibandingkan dengan cara pembiakan sapi di kandang yang memerlukan tenaga kerja dan biaya pakan yang jauh lebih tinggi,’’ ujarnya.

Bagi peternak pemilik lahan luas tapi tidak dapat melepas sapi di lahan tanaman pangan di musim kemarau. Mereka harus mengumpulkan limbah pertanian untuk memenuhi ketersediaan pakan, meskipun kualitasnya tidak memenuhi kebutuhan ternak.  Hal ini masih diatasi dengan biaya murah, misalnya dengan cara suplementasi urea pada limbah pertanian.

Selanjutnya, contoh praktik cerdas yang kedua dilakukan oleh Kelompok Ternak Kalampa Sama, Kandai Satu, Dompu. Di musim hujan (Desember – Juni) peternak mengembalakan sapi mereka di padang pengembalaan umum Doro Ncanga. Mulai bulan Juli, ketika rumput di Doro Ncanga sudah habis peternak memindahkan sapi mereka secara berkelompok ke lahan pribadi.

‘’Biasanya pada saat tersebut sapi siap melahirkan sehingga proses kelahiran sapi dapat dimonitor secara intensif dan pakan disediakan dalam jumlah cukup. Dengan strategi ini, hampir tidak ada anak sapi yang mati,’’ terang Dahlan.

Ketua Kelompok Kalampa Sama, Buyung Suryansah mengatakan bahwa sebelum mereka ‘menyelamatkan’ sapi mereka dari Doro Ncanga di musim kemarau, lebih dari setengah anak sapi mereka mati karena induk kekurangan pakan dan air minum. Sehingga anak sapi tidak mendapatkan air susu yang cukup. Kekurangan pakan di Doro Ncanga di musim kemarau, diperburuk oleh jauhnya tempat minum ternak sehingga sapi dan anaknya harus berjalan jauh untuk minum.

Menurut Dahlan, kedua contoh praktik cerdas di atas masih memerlukan beberapa perbaikan untuk meningkatkan efisiensi sistem pembiakan sapi agar menguntungkan dan berkerlanjutan.

Saat ini, program ACIAR IndoBeef dan Centre for Sustainable Farm Systems Univeritas Mataram, bekerja sama dengan Pemkab Sumbawa dan Dompu menginisiasi program revitalisasi sistem pembiakan sapi secara ekstensif. Dengan cara membuat model pembiakan sapi di lahan sendiri pada musim hujan dan digembalakan di lahan tanaman pangan yang sudah bera (lahan yang baru selesai dipanen) di musim kemarau.

Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan angka kelahiran dan mengurangi angka kematian pedet dan meningkatkan berat sapih (umur 6 bulan) sehingga efisiensi produksi sapi potong secara signifikan dapat ditingkatkan.

Peningkatan produksi dan kualitas pedet sangat penting untuk segera dilakukan karena dengan pesatnya perkembangan penggemukan sapi berbasis lamtoro yang difasilitasi melalui program ACIAR IndoBeef, ketersediaan bakalan menurun drastis dan harganya menjadi mahal.

‘’Peternak lebih memilih penggemukan dengan pembiakan karena lebih menguntungkan dan lebih cepat mendapatkan hasil. Hal ini akan mengancam keberlanjutan sistem produksi sapi potong di NTB sehingga upaya kolektif perlu sangat segera dilakukan dengan melibatkan peternak pembiakan yang saat ini masih memiliki lahan luas dan jumlah sapi yang banyak,’’ tambahnya.

Di Kabupaten Sumbawa saja, ada lebih dari 200 peternak yang memiliki sapi atau kerbau lebih dari 50 ekor per orang. Ini adalah aset daerah yang perlu difasilitasi pemerintah daerah agar usaha pembiakan sapi menguntungkan dan berkelanjutan.(ris/r)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional