Pemberangkatan JCH Masih Tunggu Kebijakan Pemerintah Arab Saudi

H. Sirojuddin. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Tertundanya pemberangkatan jemaah calon haji (JCH) tahun 2020 masih akibat pandemi Covid-19 menjadi PR pemerintah untuk direalisasikan. Pasalnya pemberangkatan JCH ini masih menunggu kebijakan dari pemerintah Arab Saudi.

Kepala Kemenag Lotim, H. Sirojuddin menyebutkan bahwa pemerintah pusat melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI terus menjalin komunikasi dengan pemerintah Arab Saudi terkait pemberangkatan JCH di tengah pandemi Covid-19.

Iklan

Akibat pandemi Covid-19, disebutkan sejauh ini terdapat sejumlah JCH yang mengambil uangnya. Namun apabila tetap ingin berangkat, maka dapat mengambil sisa dari pelunasannya sebesar Rp25 juta. Namun apabila diambil keseluruhannya, JCH tersebut menunjukkan bahwa ia mengundurkan diri.

 “Kalau porsi yang diambil maka mengundurkan diri. Untuk daftar tunggu haji saat ini selama 27 tahun. Maka semakin sering menunda maka semakin lama. Tertundanya satu tahun daftar tunggu sampai 35 tahun,” terangnya.

Diketahui, JCH Lotim sebanyak 830 JCH untuk tahun ini. Jumlah ini mengalami pengurangan dari tahun 2019 lalu yang mencapai 1.252 lebih. Kondisi ini disebabkan karena jumlah pendaftar haji waktu itu atau bulan Oktober 2011 sedikit. Sementara untuk pemberian kouta haji hanya untuk provinsi dan bukan kabupaten/kota.

Di samping itu, untuk petugas pada tanggal 13 Maret dilakukan Diklat selama 10 hari di Asrama Haji NTB. Untuk Kabupaten Lotim, sebanyak dua orang TPHI dan 2 lainnya TPII. Sedangkan untuk TPN belum diterima SKnya dari pemerintah pusat. Dalam Diklat itupun dengan sistem gabung atau integrasi  antara kesehatan dan Kementerian Agama, yang terdiri dari satu dokter dan dua perawat dengan masing satu TPHI dan satu TPII.

Pemerintah sebelumya menyiapkan beberapa opsi terkait pemberangkatan JCH, pertama berupa kouta penuh dilakukan maka semua jemaah haji akan diberangkatkan. Namun opsi ini dapat dilakukan ketika Corona sudah tidak ada serta dilakukan vaksin.

Untuk opsi kedua, maka JCH diberangkatkan sebagian, terdapat beberapa langkah yang harus diterapkan berupa pembatasan jarak di hotel maupun di jumlah JCH di pesawat. Dampaknya dalam penerapan opsi kedua ini berupa biaya perjalanan yang bertambah dikarenakan jumlah JCH yang semula dalam pesawat 450 orang, harus dibagi dua. Belum lagi hotel yang biasanya 6 orang dibagi menjadi dua.

Sedangkan untuk opsi ketiga, melakukan penundaan. Opsi ini memiliki dampak yang cukup besar karena akan terjadi penumpukan jumlah antrean. Maka dari itu, kata Sirojudin, diharapkan supaya opsi pertama yang diterapkan sehingga pemberangkatan JCH normal tanpa adanya dampak yang terjadi.   “Kita berharap pemberangkatan dapat berjalan normal,”harapnya.

Meski adanya pandemi Corona, Sirojudin mengatakan jika pendaftaran tetap dibuka bagi masyarakat yang ingin berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. “Kalau pendaftaran sampai saat ini tetap kita buka pelayanan,”pungkasnya. (yon)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional