Pembenahan Jalan di Dasan Sari Terkendala Anggaran

Pengendara motor melintas di Jalan TGH. Abdul Hanan Mataram, Selasa, 9 Maret 2021. Ruas jalan tersebut mengalami retak di beberapa titik sejak tahun lalu. Kendati retakan yang muncul meningkatkan potensi longsor, pembenahan jalan belum dapat dilakukan oleh Pemkot Mataram karena keterbatasan anggaran.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Salah satu titik di ruas jalan TGH. Abdul Hanan Mataram rawan amblas. Kendati retakan memanjang di jalan yang menyusuri pinggiran sungai Jangkuk tersebut telah dibatasi warga untuk alasan keamanan, perawatannya belum dapat dilakukan oleh Pemkot karena keterbatasan anggaran.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Mataram, Miftahurrahman, menerangkan penanganan dan perawatan untuk ruas jalan yang berada di Lingkungan Dasan Sari tersebut sebenarnya telah diajukan ke pemerintah pusat sejak 2020 lalu. “Itu kita programkan lewat DAK (Dana Alokasi Khusus). Cuma sampai tahun ini belum turun anggarannya. Itu masuk prioritas kalau di kita, tapi dari pusat belum turun anggarannya karena terkena pengalihan,” ujarnya saat dimintai keterangan, Selasa, 9 Maret 2021.

Iklan

Diterangkan, ada dua titik di jalan TGH. Abdul Hanan yang rawan amblas. Retakan yang muncul di kedua titik tersebut memiliki panjang masing-masing sekitar 10 meter. Sedangkan jarak antara kedua retakan mencapai sekitar 50 meter.

“Untuk hotmix di sana memang anggarannya dari APBN. Kita dulu hanya pembebasan lahannya saja. Kita ajukan sekarang perbaikannya dengan DAK, tapi yang turun sejak tahun lalu hanya untuk satu program saja,” jelas Mifta.

Menurutnya, untuk 2021 pembenahan jalan hanya dibiayai untuk di Jalan Wira Senggala Mataram. Anggaran sebesar Rp8 miliar akan digunakan untuk membenahi jalan sepanjang 8,6 kilometer tersebut, termasuk untuk perbaikan saluran drainase.

“Karena di sana juga ada masalah genangan, jadi salurannya juga diperbaiki. Itu yang menghubungkan Jalan Banda Seraya dari Jalan Gajah Mada terus sampai tembus ke Pasar Pagutan. Itu koneksi antara jalan provinsi dengan jalan provinsi lainnya, jadi memang prioritasnya kalau dari pusat,” ujarnya.

Seluruh pengerjaan jalan di Kota Mataram diakui Mifta didasarkan pada hasil konsultasi dengan pemerintah pusat. Karena itu, meskipun daftar pengerjaan jalan prioritas telah diajukan, pengerjaan di daerah tetap mengikuti hasil evaluasi dari pemerintah pusat.

“Jadi kalau yang di Jalan TGH. Abdul Hanan mungkin dianggap masih urutan ke sekian prioritasnya oleh pusat, karena itu kita belum bisa eksekusi. Kalau datanya sudah kita usulkan sejak tahun lalu. Nanti pusat tinggal menaikkan urutannya sesuai pengerjaan yang sudah kita selesaikan di sini,” jelasnya.

Salah seorang warga Dasan Sari, Muhammad Irfandi, mengaku cukup khawatir dengan retakan di jalan TGH. Abdul Hanan. Dirinya yang sehari-hari melewati jalan ruas jalan tersebut melihat topografi tanah semakin turun setiap harinya karena dilewati kendaraan.

“Makanya dibuat pembatas begitu kemarin sama petugas dan orang-orang sini. Apalagi kemarin hujan itu, dia tambah turun saja (tanahnya),” ujar Irfan. Pihaknya berharap ada solusi jangka pendek yang dapat diberikan pemerintah jika memang pembenahan secara menyeluruh belum dapat dilakukan. “Yang penting tidak longsor saja seperti di Senggigi itu,” tandasnya. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional