Pembelajaran Tatap Muka Dimulai Bulan Oktober

H. Lalu Fatwir Uzali. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan sedang mempersiapkan simulasi pembelajaran tatap muka yang direncanakan berlangsung bulan Oktober mendatang. Skenarionya akan tetap memperhatikan perkembangan psikologi masyarakat dan perkembangan kasus Covid-19 di Mataram.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, H. Lalu Fatwir Uzali menjelaskan, secara fisik sekolah telah siap melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah. Tetapi persiapan psikologi anak, orang tua dan guru perlu juga diperhatikan. Pihaknya tidak serta merta mau cepat melaksanakan pembelajaran tatap muka. Perlu juga dipertimbangan perkembangan psikologi masyarakat serta perkembangan data kasus positif Covid-19. “Rencananya memang bulan Oktober ini. Tetapi kita sih ndak serta – merta mau cepat,” kata Fatwir ditemui Selasa, 22 September 2020.

Iklan

Selain persiapan simulasi pembelajaran tatap muka, pihaknya juga telah meminta sekolah mengefektifkan belajar dari rumah (BDR) baik secara dalam jaringan dan luar jaringan. Disampaikan, sistem BDR lambat laun mengurangi animo peserta didik. Meski demikian, daring maupun luring harus terus berjalan. Pembelajaran luring diingatkan harus tetap mengantisipasi penularan virus Corona, sehingga diwajibkan memperhatikan protokol kesehatan.

Fatwir menyampaikan, masa uji coba yang dilaksanakan Pemprov NTB tidak ada yang sulit. Cuma menjaga jarak anak – anak serta memperhatikan protokol kesehatan. “Tapi pembelajaran tatap muka sekolah siap secara fisik. Sekarang ini bagaimana menyadarkan anak kedepannya menjaga jarak, tidak berkerumun dan rajin cuci tangan,” terangnya.

Simulasi pembelajaran tatap muka berlaku bagi jenjang pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Pihaknya tidak ingin ada kegaduhan karena kebijakan tidak merata. Dikbud hanya mengatur jadwal masuk anak. Disampaikan Fatwir, simulasi sesungguhnya tidak riil langsung belajar. Tetapi hanya mengatur cara masuk, duduk, guru masuk ke sekolah. Setelah itu, sekolah mengatur pulang dan penjemputan siswa.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Dra. Hj. Dewi Mardiana Ariany menyarankan agar pembelajaran tatap di sekolah harus memiliki prinsip melindungi anak. Pihaknya tidak ingin anak terpapar Covid-19 dan sekolah menjadi klaster baru. “Harus diatur jarak dan anak harus wajib pakai masker,” pintanya. (cem)