Pembelajaran di Masa Pandemi, Fokus Penguatan Literasi dan Numerasi

Dirjen GTK Kemendikbud-Ristek,  Iwan Syahril, berdialog dengan guru sekolah dampingan INOVASI, dalam kunjungan di  Loteng, Kamis, 8 Oktober 2021. (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Pandemi Covid-19 membuat sekolah tidak lagi leluasa menggelar pembelajaran sebagaimana biasanya. Salah satu dampak yang dirasakan, guru tidak bisa menuntaskan pembelajaran sesuai kurikulum yang ada. Terutama di sekolah tingkat dasar. Namun demikian, pemerintah sudah membuat kebijakan, bahwa pemenuhan target kurikulum bukan yang utama di masa pandemi seperti sekarang ini.

“Kebijakan pendidikan di masa pandemi bukan soal target kurikulum. Tapi bagaimana bisa tetap memberikan pembelajaran kepada siswa. Dengan fokus pada penguatan numerasi dan literasi,” ungkap Dirjen. Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Penelitian (Kemendibud-Ristek), Dr. Iwan Syahril, Ph.D., Kamis, 7 Oktober 2021.

Iklan

Saat meninjau sekolah dampingan INOVASI– lembaga kerjasama Australia-Indonesia, SDN 1 Darek dan SDN Batubeduk Desa Batujai, Lombok Tengah (Loteng), Syaril menegaskan, pembelajaran di tengah pandemi justru memberi kesempatan bagi para guru untuk bisa kreatif dan inovatif dalam memberikan pelajaran kepada siswanya. Karena guru tidak lagi dituntut untuk bagaimana bisa mengejar target kurikulum. Tetapi lebih kepada penguatan karakter serta peningkatan kemampuan numerasi dan literasi siswa.

“Di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, guru tidak boleh kaku dalam memberi pembelajaran. Tetapi harus fleksibel. Dan, pemerintah membuka ruang bagi guru untuk berinovasi yang luas. Dengan memusatkan capaian pembelajaran pada penguatan dan penguasaan numerasi dan literasi,” ujarnya.

Syahril mengatakan pola pembelajaran yang dikembangkan INOVASI yang menitikberatkan pada penguatan literasi dan numerasi patut ditiru. Di mana dalam proses pembelajaran siswa dikelompokkan sesuai dengan tingkat kemampuan literasi dan numerasinya. Tidak kemudian dicampur yang justru membuat siswa tidak maksimal dalam menerima materi pelajaran.

“Dalam satu kelas, kemampuan numerasi dan literasi siswa itu berbeda-beda. Sehingga guru dalam hal ini dituntut untuk kreatif dalam memberikan pembelajaran. Nah, pola pembelajaran yang dikembangkan INOVASI salah satu contoh yang bisa diterapkan,” terangnya.

Menurutnya, tidak masalah siswa dari kelas berbeda dikelompokkan sesuai tingkat kemampuan literasi dan numerasinya. Sehingga siswa yang tadinya mungkin kurang begitu percaya diri belajar dengan siswa sekelas yang kemampuan literasi dan numerasinya lebih baik, bisa kembali menemukan kepercayaan diri ketika belajar dengan siswa yang kemampuan literasi dan numerasinya sama.

Ia menjelaskan salah satu kesalahan dalam pola pendidikan selama ini ialah memaksakan siswa yang kemampuan literasi maupun numerasinya kurang, tetap belajar dengan siswa yang kemampuan literasi dan numerasinya lebih baik. Hanya supaya guru bisa memenuhi target kurikulum yang ada. Akibatnya, siswa yang kemampuannya lebih rendah sulit mengejar siswa yang kemampuan lebih tinggi.

“Pola pembelajaran yang dikembangkan INOVASI kita harapkan bisa terus diperluas ke sekolah-sekolah lain yang mungkin saat ini tidak masuk sekolah dampingan. Tidak hanya di Loteng saja, tetapi juga di daerah lainnya,” tandas Syahril. (kir)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional