Pembelajaran di Kelas Awal di SD Diarahkan secara Luring

H. Lalu Fatwir Uzali (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pembelajaran di kelas awal terutama kelas 1 dan kelas 2 Sekolah Dasar (SD) diakui sangat sulit jika dilaksanakan dengan konsep Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara dalam jaringan (daring). Oleh karena itu, Dinas Pendidikan mengarahkan agar guru melaksanakan PJJ luar jaringan (luring) untuk kelas 1 dan 2.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H. Lalu Fatwir Uzali, S.Pd., MM., ditemui di ruang kerjanya akhir pekan kemarin mengatakan, ia meminta kepada guru-guru untuk bisa melaksanakan PJJ luring untuk kelas 1 dan kelas 2. Guru diarahkan untuk mencari siswa ke rumah mereka. Namun harus tetap ada izin dari orang tua siswa.

“Kalau secara daring mereka mulai bosan dan konsepnya juga baru. Sebaiknya melalui luring dengan mencari anak-anak, tetap harus ada izin dari orang tua, diterima atau tidak,” katanya.

Menurutnya, pembelajaran jarak jauh bagi siswa kelas awal harus mengedepankan kolaborasi antara guru dan orang tua siswa. Ia memberikan kebebasan kepada guru-guru untuk memilih konsep pembelajaran jarak jauh.

“Saya berikan kebebasan kepada guru-guru untuk melaksanakan pembelajaran secara daring, luring, atau campuran. Terpenting agar siswa terlayani dengan baik,” ujar Fatwir yang juga mantan Kepala SMAN 1 Mataram ini.

Sebelumnya, Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian pada Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Mataram, Syarafudin, mengkhawatirkan pembelajaran di kelas 1 SD, apalagi tidak semua murid pernah mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebelumnya.

Dalam kesempatan bertemu dengan guru kelas 1 SD, menurut Syarafudin banyak guru yang mengeluhkan hal ini. Karena biasanya guru akan memegangi tangan murid ketika belajar menulis angka dan huruf. Ketika pembelajaran jarak jauh, pengenalan huruf dan angka akan semakin sulit, terlebih lagi jika orang tua murid tidak memiliki kemampuan mendampingi anaknya. Di samping itu, orang tua murid harus mencari nafkah, berdampak kesulitan memiliki waktu mendampingi anaknya belajar.

Terkait permasalahan itu, pihaknya berusaha menyiasatinya melalui kunjungan rumah. Guru diarahkan untuk melakukan kunjungan rumah ke rumah siswa. Hal ini dianggap memudahkan, apalagi biasanya rumah murid SD cukup dekat dengan sekolah. (ron)