Pembebasan Lahan Tol Bandara-Kuta Butuh Rp 172 Miliar

DIBANGUN - KEK Mandalika merupakan salah satu kawasan yang jadi prioritas pembangunan. Dalam mendukung pengembangan kawasan ini, pemerintah berencana membangun jalan tol dari LIA menuju Kuta. Di mana, pembangunan tol masih dalam upaya pembebasan  lahan. (Suara NTB/kir)

Mataram (Suara NTB) – Perhitungan kebutuhan anggaran untuk keperluan pembebaasan lahan pembangunan jalur tol bandara-Kuta di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) sudah selesai. Di mana dibutuhkan anggaran tidak kurang dari Rp172 miliar untuk membebaskan seluruh lahan di jalur tersebut. Untuk menutupi kebutuhan anggaran pembebasan lahan, pemerintah provinsi dan Pemkab Loteng nantinya akan sharing anggaran.

“Ternyata anggaran untuk pembebasan lahan pembangunan jalan tol Bandara-Kuta besar juga, mencapai hingga Rp. 172 miliar. Jadi kita akan sharring anggaran dengan Pemkab Loteng,”  aku Kepala Bappeda NTB Ir. Ridwan Syah, MM., MSc., di Mataram, Selasa, 18 Desember 2018.

Iklan

Menurutnya, ada rencana sharing anggaran 75 persen berbanding 25 persen. Di mana Pemkab Loteng akan menanggung 25 persen kebutuhan anggaran pembebasan lahan. Selebihnya akan ditanggung oleh pemerintah provinsi. Namun, itu masih bisa berubah, tergantung kondisi dan kemampuan anggaran masing-masing pemerintah. Dalam hal ini, ujarnya, Pemprov NTB sedang berupaya melobi pemerintah pusat supaya bisa ikut sharing anggaran, karena kondisi anggaran daerah masih sangat terbatas. Belum lagi, Pulau Lombok khususnya baru terkena musibah gempa, sehingga banyak alokasi anggaran daerah yang diarahkan untuk mendukung upaya penanganan pasca gempa.

“Kita tengah berupaya supaya pemerintah pusat juga bisa ikut dalam skema sharing anggaran pembebasan lahan jalan tol Bandara-Kuta ini supaya beban pemerintah daerah bisa lebih ringan. Karena kondisi kita juga baru saja menghadapi bencana gempa,” imbuh Ridwan.

Kalau soal anggaran pembangunan jalannya sendiri, tidak masalah. Pemerintah pusat sudah siap mengalokasikan anggaran sesuai kebutuhan pembangunan jalan tersebut. Tinggal sekarang bagaimana persoalan lahan bisa segera dituntaskan.

Lalu kapan jalan tol bandara-Kuta tersebut akan dibangun? Ridwan mengatakan, belum bisa memastikan, karena kembali lagi, itu sangat tergantung cepat tidaknya proses pembebasan lahan. “Kalau tahun 2019 pembebasan lahan bisa selesai. Maka tahun berikutnya proses pembangunan jalannya sudah bisa dilaksanakan,” terangnya.

Tapi jika melihat kondisi yang ada sekarang, untuk bisa menuntaskan pembebasan lahan di tahun 2019 mendatang kemungkinan masih agak berat. Akan tetapi pihaknya tetap berupaya proses pembebasan lahan bisa dilakukan dimulai di APBD Perubahan 2019 mendatang. “Prinsipnya, proyek ini harus bisa terlaksanakan. Soal kapan, masih menunggu kesiapan lahan,” pungkasnya. (kir)