Pembayaran Pajak Nusa Tenggara Belum Capai Target

Mataram (suarantb.com) – Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Nusa Tenggara, Suparno menyatakan jumlah pajak yang dibayarkan masyarakat NTB dan NTT masih belum mencapai target. Tahun 2016 saja, dari target Rp 6,4 triliun hanya diperoleh Rp 4,9 triliun.

Belum tercapainya target pembayaran pajak, diakui Suparno dipengaruhi oleh kepatuhan wajib pajak. Di NTB kepatuhan wajib pajak hanya 55 persen. Dari total seluruh wajib pajak yg memiliki kewajiban untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT).

Iklan

“Kepatuhan secara nasional untuk menyampaikan SPT secara material itu paling 55 persen. Tapi kalau dari wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha, kepatuhannya sekitar 80 persen,” jelasnya, Selasa, 21 Februari 2017.

Tingginya jumlah penduduk NTB yang bekerja sebagai TKI menjadi salah satu faktor rendahnya perhitungan kepatuhan wajib pajak di NTB. Sebab NPWP yang dimiliki masih hidup sementara mereka tidak melaporkan STP.

“Itu yang menjadi beban administrasi, karena di sini banyak teman-teman kita yang menjadi TKI. Walau sudah kerja di luar negeri, NPWP nya masih hidup. Sehingga itu masih masuk dalam penghitungan rasio kepatuhannya,” paparnya.

Tahun ini, target pembayaran pajak di NTB dan NTT dijelaskan Suparno diturunkan menjadi Rp 5,9 triliun. Mengingat kondisi ekonomi daerah yang juga mengalami penurunan. Ditambah dengan jumlah stimulan dari pemerintah pusat yang diterima daerah dalam bentuk Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN dan APBD menurun. Padahal, penerimaan pajak terbesar di Nusa Tenggara berasal dari pemerintah.

“56 persen penerimaan pajak di Nusa Tenggara berasal dari belanja pemerintah. Jadi kalau belanja pemerintah turun pasti targetnya juga turun,” katany.

Belanja pemerintah juga diakui Suparno merangsang pertumbuhan ekonomi daerah, yang juga akan merangsang pertumbuhan ekonomi swasta. Meski pertumbuhan ekonomi NTB luar biasa, namun pajak yang disumbangkan tidak sebesar belanja pemerintah.

“Kalau dari sektor swasta itu sumbangan pajak sekitar 43 persen. Walaupun pertumbuhan ekonominya luar biasa, tapi potensi skala ekonominya di sini baru sebesar itu,” imbuhnya. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here