Pembatalan Paket Wisata Akibat Corona Perlu Perhatian Pemerintah

Awanadi Aswinabawa. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Pelaku industri pariwisata mengharapkan pemerintah tidak terlena dengan peningkatan kunjungan wisatawan pada periode Januari – Februari lalu. Pasalnya, pascapengumuman kasus positif virus Corona (Covid-19) beberapa waktu lalu, pembatalan pemesanan paket wisata di NTB disebut cukup banyak terjadi.

Sebagai informasi, berdasarkan data turis asing tahun 2020 di Lombok International Airport beberapa negara mengalami peningkatan drastis. Untuk wisatawan Australia meningkat hingga 1.150 persen, di mana untuk periode Januari – Februari 2019 hanya ada 545 orang wisatawan, sementara periode yang sama 2020 menjadi 6.814 orang wisatawan.

Iklan

Hal serupa terjadi pada kunjungan wisatawan London, Inggris, yang meningkat 10 persen dari 986 orang menjadi 1.081 orang. Sedangkan kunjungan wisatawan Jerman meningkat 2 persen dari 698 orang menjadi 713 orang.

‘’Untuk beberapa negara memang masih ok (bagus) sesuai grafik (dari Imigrasi LIA). Cuma kita tidak boleh terlena,’’ ujar Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB, Awanadi Aswinabawa dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 6 Maret 2020.

Diterangkan Awan tingkat kunjungan wisatawan Australia terbantu dengan penerbangan langsung yang difasilitasi maskapai AirAsia. “Kalau untuk London dan Jerman kita bersyukur bisa stabil,” ujarnya.

Di sisi lain, untuk negara lain seperti Singapura, Korea, China, dan Malaysia diakui mengalami penurunan akibat penyebaran Covid-19. ‘’Sebenarnya angka penurunannya belum terlalu ekstrem, tapi sebaiknya (pemerintah) cek juga kondisi di lapangan untuk hotel dan travel agent,’’ ujar Awan.

Pengecekan sendiri perlu dilakukan agar regulasi yang tepat bisa ditentukan. Dicontohkan Awan seperti penjagaan dan penambahan eksistensi penerbangan internasional dari dan ke NTB. ‘’Kita harus bisa menambah rute internasional lain yang punya potensi,’’ ujarnya.

Senada dengan itu Wakil Ketua Astindo, Sahlan, mengharapkan adanya pemantauan situasi terkini dari pemerintah yang diikuti pengaturan regulasi. ’’Kita sekarang perlu langkah strategis terhadap situasi akibat virus Corona. Mengingat banyak tamu kita sudah mulai banyak yang cancel (membatalkan, Red),’’ ujarnya, Jumat, 6 Maret 2020.

Pembatalan diakui cukup banyak. Dicontohkan Sahlan seperti pembatalan dua paket wisata yang dialaminya, dengan jumlah masing-masing 150 orang dan 270 orang. “Belum lagi (wisatawan) dari Eropa beberapa memilih postpone (perubahan jadwal, Red). Jumlah itu belum dari semua anggota Astindo dan travel lain,’’ ujarnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) NTB, Ahmad Ziadi, menerangkan pelaku industri pariwisata di NTB saat ini mengalami kerugian yang tidak sedikit. Dicontohkannya data dari anggota ASPPI NTB, untuk periode Februari kerugian tersebut mencapai Rp5 miliar.

“Itu dari cancelation (pembatalan) paket yang tidak dibayar. Kita juga tidak mungkin membebankan itu ke tamu walaupun sifatnya last minute. Karena itu memang terkait keselamatan mereka juga,’’ ujar Ziadi. Menurutnya periode Januari – Februari 2020 pariwisata NTB sebenarnya mulai mengalami peningkatan sejak dilanda gempa 2018 lalu. Khsususnya untuk wisatawan domestik dan overseas dari Malaysia.

Belakangan penyebaran Covid-19 di beberapa negara, termasuk Malaysia dan negara lainnya di kawasan Asia, peningkatan tersebut kembali mengalami hambatan. ‘’Dari kerugian Rp5 miliar itu, kalau untuk ukuran periode Februari kemarin sama seperti peningkatannya itu turun 90 persen dari keseluruhan reservasi paket,’’ ujarnya.

Selain itu, sejak Presiden Joko Widodo, mengumumkan adanya dua kasus positif Covid-19 di Indonesia tren pembatalan paket wisata disebut semakin meningkat. Bahkan untuk awal Maret pembatalan tersebut sudah dilakukan. (bay)