Pembatalan Kunjungan Mulai Dirasakan, Pelaku Wisata Khawatir

Wisatawan yang datang berkunjung ke NTB. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Dampak virus Corona menyasar banyak sektor, termasuk pariwisata yang ikut terpuruk. Jumlah wisatawan  ke tiga gili di Lombok Utara masih stabil. Namun, pelaku industri pariwisata lainnya mulai khawatir karena adanya aksi pembatalan kunjungan wisata.

Menurut Kepala Syahbandar Pemenang Heru Supriyadi, virus Corona yang sudah masuk ke Indonesia, belum berdampak signifikan. Justeru jumlah kedatangan turis terbaru naik turun dan cenderung stabil.

Iklan

‘’Kedatangan wisatawan relatif masih stabil seperti bulan  Januari – Februari kemarin,’’ kata Heru Supriyadi.

Berdasarkan data penumpang  per hari Selasa, 3 Maret 2020, jumlah penumpang masih di angka sekitar 1000 orang. Seperti di Gili Trawangan, jumlah wisatawan dan penumpang yang turun 725 orang, Gili Air 286 orang, Gili Meno 27 orang. Total penumpang yang turun per 3 Maret, 1.124 orang.

Kapal cepat yang melayani rute itu diantaranya Gili Gili 3, Samaya One Pride 99, BWE VII, Putri  Island, Gili Gateway, Wahana V, Free Bird Exp 02, Putri  Island 08, Meranti Exp 33, Ekajaya 25,  Ekajaya 26, Ostina 99, Golden Queen 01, Super Scoot III, Ekajaya 23, Meranti Exp 33 dan Ostina 3.

18 operator fastboat yang beroperasi itu, melayani satu kali trip dari Bali ke tiga gili, transit pemeriksaan di Pelabuhan Pemenang. Belasan kapal cepat itu dengan rata-rata kapasitas penumpang 78 sampai 218 orang.

Sementara laporan rekapan penumpang terbaru 4 Maret 2020, juga relatif stabil.  Wisatawan turun di Gili Trawangan 652 orang, Gili Air 363 orang, Gili Meno 48 orang. Total penumpang yang turun 1.136 orang.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) NTB, Ahmad Ziadi, menjelaskan, pelaku industri pariwisata di NTB saat ini mengalami kerugian. Banyak pelaku industri pariwisata menerima pembatalan pesanan paket dari tamu yang takut tertular virus berbahaya tersebut. Data dari ASPPI NTB, untuk periode Februari kerugian tersebut mencapai Rp 5 miliar.

‘’Itu dari cancel paket yang tidak dibayar. Kita juga tidak mungkin membebankan itu ke tamu walaupun sifatnya last minute, karena itu memang terkait keselamatan mereka juga,’’ ujarnya.

Diterangkan Ziadi, periode Januari – Februari 2020 pariwisata NTB sebenarnya mulai mengalami peningkatan sejak dilanda gempa 2018 lalu. Khususnya untuk wisatawan domestik dan overseas dari Malaysia.

Belakangan, penyebaran Covid-19 di beberapa negara, termasuk Malaysia dan negara lainnya di kawasan Asia, peningkatan tersebut kembali mengalami hambatan. Lebih-lebih sejak Presiden Indonesia, Joko Widodo, mengumumkan adanya dua kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Dampaknya, tren pembatalan paket wisata disebut semakin meningkat. Bahkan untuk awal Maret pembatalan tersebut sudah dilakukan.

‘’Untuk Maret ini bahkan sudah ada yang batalkan, padahal Presiden baru mengumumkan (kasus positif Covid-19) dua hari lalu. Pembatalan itu untuk pesanan tanggal 6, semua gara-gara Corona,’’ ujar Ziadi.

Diterangkan Ziadi, masalah utama pariwisata saat ini adalah rasa takut dari wisatawan sendiri untuk bepergian. Terlebih menuju negara atau daerah-dengan kasus positif Covid-19.

Karena itu, selain program subsidi tiket pesawat dan pembebasan pajak yang dilakukan pemerintah saat ini, perlu ada strategi lain untuk meyakinkan wisatawan bahwa penanganan yang tepat untuk kasus Corona telah disiapkan.

Senada dengan itu Ketua Asita NTB, Dewantoro Umbu Joka, membenarkan saat ini telah banyak pembatalan pesanan paket wisata untuk pasar mancanegara. Hal tersebut diakui karena beberapa negara mengkhawatirkan penyebaran lebih luas dari Covid-19.

“Event-event penting di luar negeri juga banyak yang cancel. Seperti Matta Fair, ITB Berlin juga. Untuk luar negeri pasar Asia dan Eropa kita saat ini memang sangat terganggu karena virus corona ini,” ujar Dewantoro.

Penurunan tingkat kunjungan wisatawan mancanegara itu diakui merupakan dampak dari bencana global. Mengingat banyak negara membatalkan jadwal penerbangan dan mengeluarkan travel warning untuk menghindari dampak Covid-19.

Terkait pembatalan penerbangan luar negeri sendiri disebut Dewantoro telah mencapai 50 persen. Sedangkan untuk pembatalan paket pesanan di agen perjalanan langsung belum dapat dihitung. ‘’Harapan kita memang cuma (wisatawan) domestik, karena dia pengaruhnya luar biasa juga terhadap UMKM,’’ katanya.

Pembatalan reservasi kamar hotel diperkirakan meningkat. Terutama pascapengumuman dua kasus positif virus Corona (Covid-19) di Indonesia.

Ketua Kehormatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, I Gustri Lanang Patra, menerangkan kasus positif Covid-19 tersebut dipastikan akan menjadi pertimbangan wisatawan, khususnya mancanegara yang ingin berlibur.

Diterangkan Lanang sampai saat ini dampak dari ditemukannya positif Covid-19 telah dirasakan. Baik oleh hotel di kota maupun resor. ‘’Kalau di kota, dampaknya memang ada tapi tidak terlalu besar dari pembatalan ini. Yang parah sekali itu teman-teman di resor seperti tiga gili dan Senggigi,’’ ujarnya.

Kerugian dari pembatalan diperkirakan cukup signifikan. Walaupun begitu, Lanang menyebut pihaknya belum mendapatkan laporan pasti terkait total kerugian yang dialami pelaku usaha perhotelan.

Di sisi lain, situasi tersebut dikhawatirkan memberikan tekanan bagi aktivitas bisnis perhotelan, khususnya untuk memenuhi biaya operasional.

“Kita sekarang ini khawatir, seperti gempa kemarin, banyak karyawan yang dirumahkan. Kita sedang lihat perkembangannya, semoga satu bulan ke depan sudah menurun,” ujarnya.

Diterangkan Lanang untuk periode Februari okupansi hotel sebenarnya menunjukkan peningkatan, khususnya dari MICE dan wisatawan domestik. Namun peningkatan tersebut kembali terhambat oleh penyebaran Covid-19 yang kemudian positif di Indonesia.

Terpisah Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan, menerangkan pembatalan reservasi di hotel-hotel di Tiga Gili telah mencapai 30 persen. Jumlah tersebut diakui cukup memukul aktivitas bisnis. ‘’Semoga ini cepat aman,’’ ujarnya.

Senada dengan itu General Manager Aruna Senggigi Resor and Convention, Weni Kristanti, menerangkan sampai saat ini pembatalan reservasi kamar hotel telah banyak dilakukan oleh tamu. Terutama periode Maret pascakasus positif Covid-19 di Indonesia.

“Sampai saat ini di Aruna sudah ada satu event yang cancel karena kasus corona. Itu 75 kamar untuk dua hari,” ujar Weni kepada Suara NTB.

Dengan estimasi harga kamar hotel bintang empat tersebut, kerugian dipastikan cukup signifikan. Tidak hanya Aruna Senggigi, Weni menyebut hotel yang masih dalam satu jaringan telah melaporkan penurunan okupansi yang cukup drastis.

Menurutnya, hal tersebut membutuhkan respons cepat dari pemerintah untuk memfasilitasi sosialisasi dan rencana mitigasi penanganan kasus Covid-19. Hal itu dibutuhkan untuk meyakinkan masyarakat dan wisatawan bahwa NTB telah siap melakukan penanganan untuk penyebaran virus mematikan tersebut. (ars/bay)