Pembangunan Tol Listrik Tidak Seperti yang Diharapkan

Mataram (Suara NTB) – Ekspektasi PLN Unit Induk Pembangunan (UI) Nusa Tenggara (NTB-NTT), bahwa tol listrik di NTB tahun ini harusnya rampung. Sayangnya, di sejumlah titik pembangunan tapak tower, diseret persoalan sulitnya pembebasan lahan.

Beberapa persoalan  yang dihadapi PLN ini diungkapkan Deputi Manajer Hukum dan Komunikasi PLN UIP Nusa Tenggara, Hari Susanto. Untuk tol listrik di Pulau Lombok, PLN merencanakan pembangunan transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) mengitari pulau ini untuk mempermudah distribusi setrum dari pembangkit dan Gardu Induk (GI).

Iklan

Sesuai pemetaan, untuk Ampenan-Tanjung akan dibangun  71 tower dengan seluruhnya lahan telah dibebaskan. Tetapi tujuh di antara rencana pembangunan tower ini belum diizinkan warga di sekitar Sandik – Meninting, meskipun PLN sudah tak ada persoalan dengan lahan.

“Sudah ada mediasi dari pemerintah daerah, tapi belum juga ada izin dari warga,” demikian Hari ditemui media ini di ruang kerjanya, Kamis, 16 Maret 2017.

Untuk wilayah Tanjung-Bayan, PLN rencananya akan membangun 101 tower. 13 di antaranya belum dibebaskan lahan akibat belum adanya titik temu harga yang tepat dengan pemilik lahan. Sementara untuk Bayan-Sambelia, rencananya di bangun 147 tower, namun belum dibebaskan sebanyak 16, dengan persoalan sama.

Sementara untuk Pulau Sumbawa, menurut penjelasan Hari, untuk Sumbawa-Taliwang rencananya akan dibangun 343 tower, 43 titik pembangunan tower masih terkendala pembebasan lahan.

Demikian juga untuk Labuan-Empang, dari 271 tower yang rencananya dibangun, 18 di antaranya belum tuntas lahan. Dari Empang-Dompu, rencana 215 tower, lima titik tower masih terkendala. Sementara Bima-Sape akan dibangun 91 tower, sisanya delapan belum tuntas.

“Kita masih nego sama masyarakat untuk harga lahan atau penggantian tapak tower, sambil nunggu pembangkit benar-benar ready. Harusnya pararel antara segera rampungnya pembangkit dengan rampungnya transmisi,” ujarnya.

Untuk pembangunan satu tower, PLN membutuhkan lahan 1,25 are. Di lapangan, pemilik lahan menghargai lahannya di luar harga wajar.

“Transmisi yang akan dibangun ini sebagai penyalur listrik dari gardu induk tanpa kendala walaupun ada angin besar. Cuma masih ada masyarakat yang belum mendukung,” demikian Hari Susanto. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here