Pembangunan Risha Terkendala Kesulitan Material

Menteri PMK Puan Maharani mendengarkan keluhan warga saat berkunjung di Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya pada Rabu, 17 Oktober 2018. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah pusat meminta percepatan pembangunan rumah instans sehat sederhana (Risha) dan rumah instan konvensional. Namun percepatan ini terkendala bahan material.

Kendala bahan material ini diungkapkan oleh warga dihadapkan Menteri PMK, Puan Maharani didampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Cahyanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat berkunjung di Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya, Rabu, 17 Oktober 2018.

Iklan

Rifa’i menceritakan, masyarakat yang tinggal di Lingkungan Pengempel Indah berjumlah 200 kepala keluarga. Sebagian besar rumah mereka hancur oleh gempa beberapa waktu lalu. Kebijakan pemerintah membantu membangunkan rumah dari 200 KK hanya 16 KK yang ingin dibangunkan Risha. Sisanya menginginkan dibangunkan rumah sederhana konvensional.

Keinginan warga dibangunkan Riko dengan pertimbangan luas tanah.

“Jika dibangun Risha lahannya kecil. Satu are dibagi empat ndak mungkin. Lebih baik didesainkan rumah sesuai luas lahan yang ada,” keluh dia dihadapan Menteri PMK.

Dia menginginkan adanya penyederhanaan persyaratan seperti Risha. Rifa’i mengeluhkan, pasca peletakan batu pertama pembangunan Riko justru kehabisan bahan material. Masyarakat kesulitan mencari bahan, sementara dana tak bisa dicairkan.

Demikian halnya dengan Murdi. Ia mengaku, kesulitan membangun rumahnya. Bahan bangunan terpaksa dihutang karena uang belum cair.

Fasilitator Rekompak Maria menyebutkan, pihaknya menangani enam kecamatan dengan 1.077 rumah. Pokmas terbentuk berjumlah 43. Dari 43 Pokmas sebagian memilih Risha dan Riko.

Sosialisasi pembangunan Risha disampaikan ke masyarakat. Warga yang setuju langsung dibentuk Pokmas. “Pada malam hari pun kami sosialisasikan,” ujarnya.

Mendengarkan keluhan masyarakat Puan Maharani menyampaikan, kedatangannya ke Mataram untuk melihat perkembangan pembangunan Risha dan Riko. Dia memahami NTB, khususnya masyarakat di Kota Mataram menginginkan segera kembali dan beraktivitas normal seperti biasanya.

Tetapi tujuh kabupaten/kota lainnya juga terdampak bencana alam.

“Kami datang ke sini untuk membantu masyarakat di NTB. Bukan karena di Palu, Sigi dan Donggala terkena gempa dan tsunami, lalu NTB kami lupakan,” terangnya. Bahkan, Presiden dijadwalkan segera berkunjung kembali melihat perkembangan masyarakat.

Ditegaskan, salah satu hal bagaimana mempercepat pembangunan Risha dan Riko dengan mempercepat material sampai di NTB dan khususnya Kota Mataram. Sebagian uang sebagian telah ada di bank, tapi belum dicairkan karena persyaratan harus disepakati.

Puan Maharani juga mengingatkan, pembangunan Risha dan Riko jangan saling merugikan dan dirugikan. ┬áSelain itu, anak – anak segera kembali ke sekolah dan masyarakat kembali beraktivitas normal seperti biasanya. “Masyarakat jangan bersedih. Pembangunan harus tertib. Jangan ada yang ribut,” demikian kata dia.

Suplai Material

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh berjanji akan menyuplai bahan material di luar dari pembiayaan yang ditanggung oleh pemerintah pusat melalui bantuan dana Rp50 juta. Material seperti batu dan pasir untuk pembangunan rumah korban gempa akan diberikan gratis melalui anggaran daerah.

“Pasir, batu, nanti kami siapkan. Ini di luar uang Rp50 juta diberikan oleh pemerintah pusat,” kata Walikota, Rabu, 17 Oktober 2018 saat mendampingi kunjungan Menteri PMK Puan Maharani, Panglima TNI Marsekal Hadi Cahyanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian beserta rombongan.

Walikota menyebutkan, lingkungan Pengempel Indah merupakan kawasan yang terdampak gempa bumi Juli lalu. Kawasan ini padat penduduk dengan 184 rumah hancur. Kerusakan rumah secara keseluruhan 13.000 dengan kategori rusak berat sekitar 2.700. Dan, sisanya kategori rusak sedang dan ringan.

Pemerintah pusat telah membantu dengan memberikan bantuan uang Rp50 juta untuk kategori rumah rusak berat, Rp25 juta kategori rusak sedang dan Rp10 juta kategori rusak ringan.

Walaupun demikian, dananya belum masuk keseluruhan. Dari Rp90 miliar hanya Rp72 miliar yang telah cair.

Dikatakan Walikota, telah dibangun rumah dengan pola rumah instans sederhana sehat dan rumah instans konvensional. Pemkot Mataram menyepakati menunjuk PT. Waskita Karya sebagai aplikator yang menyiapkan material. Dan, telah dibentuk Pokmas di masing – masing lingkungan.

“Telah terbentuk 14 Pokmas. 90 persen memilih Risha dan 10 persen Riko,” sebutnya.

Walikota menginginkan, aktivitas masyarakat segera pulih kembali serta memberikan dukungan ke pemerintah. Di satu sisi, masyarakat jangan hanya diam saja. Harus bangkit dari musibah yang telah terjadi. (cem)