Pembangunan Pasar Kebon Roek Butuh Rp125 Miliar

0
Kondisi Pasar Kebon Roek di Ampenan akan direlokasi ke Kebon Talo. Perencanaan mulai disusun dan pembangunan direncanakan dimulai tahun 2023 mendatang. Anggaran dibutuhkan mencapai Rp125 miliar. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perdagangan menyusun kembali rencana pembangunan Pasar Kebon Roek. Anggaran dibutuhkan diprediksi mencapai Rp125 miliar. Pembangunan akan disampaikan ke Kementerian Perdagangan.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Uun Pujianto menyampaikan, pembahasan pembangunan Pasar Kebon Roek menyangkut rencana perubahan desain. Pasalnya, detail engineering design (DED) yang dirancang tahun 2017 ternyata melanggar jalur hijau, karena di kawasan tersebut juga akan dibangun ruang terbuka hijau. “Jadi desainnya kita ubah yang tidak melanggar RTH,” kata Uun dikonfirmasi pekan kemarin.

IKLAN

Rencana pembangunan Pasar Kebon Roek di atas lahan seluas 3 hektar akan dikoordinasikan dengan Kementerian Perdagangan. Kebutuhan anggaran cukup besar mencapai Rp125 miliar. Konsep pembangunan pasar higienis tersebut tidak bertingkat dan akan membangun los atau lapak pedagang. “Jadi bentuknya saja bertingkat tetapi kita bangun los saja,” jelasnya.

Perencanaan mulai disusun tahun ini. Kata Uun, diupayakan pembangunan akan dimulai tahun 2023 mendatang. Namun demikian, kondisi ini sangat tergantung dari kondisi fiskal negara dan kemampuan daerah.

Sementara diketahui, Pasar Kebon Roek di Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan semrawut. Pedagang memilih berjualan di area parkir kendaraan. Sementara, lapak di lantai dua tidak ditempati dengan alasan sepi pembeli.

Pemanfaatan lahan parkir sebagai tempat berjualan menimbulkan kemacetan. Kendaraan roda dua dan cidomo parkir di tengah jalan, sehingga mengganggu arus lalu lintas. Padahal, kawasan itu dilalui sebagai jalur utama menuju kawasan wisata Pantai Senggigi, Kabupaten Lombok Barat.

Kepala Pasar Kebon Roek, Malwi dikonfirmasi sebelumnya mengaku, sudah sering meminta pedagang masuk menempati lapak, tetapi enggan mau pindah karena alasan sepi pembeli. Pemanfaatan lahan parkir juga sudah dikoordinasikan dengan Dinas Perhubungan. “Sudah sering kita tertibkan,” katanya. (cem)