Pembangunan NTB Butuh Sinergi

Firmansyah (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) NTB saat ini, Dr. H. H. Zulkieflimansyah SE, M.Sc dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, M.Pd diakui mulai memasuki tahapan yang lebih menantang. Khususnya dalam hal pembangunan dan program-program pemerintah untuk peningkatan kapasitas masyarakat.

‘’Narasi awalnya kita (masih) berdiskusi. Narasi terbaru ini (sudah ada aksi) dengan industrialisasi, zero waste dan lain-lain,’’ ujar Pemerhati Ekonomi NTB, Dr.M. Firmansyah. Hal itu disebut sebagai kemajuan positif di mana Pemprov NTB bersama-sama dengan pemerintah daerah mulai menghasilkan diskursus untuk model-model pembangunan ke depan.

Iklan

Walaupun begitu, Firmansyah menyebut bahwa pemerintah perlu terus meningkatkan sinergisitas. Khususnya untuk memenuhi dua aspek peningkatan ekonomi, yaitu bagaimana mendatangkan modal serta mendatangkan orang.

Kedua aspek tersebut dinilai memerlukan cara-cara tidak biasa agar dapat terwujud di NTB, mengikuti diskursus pembangunan yang disiapkan pemerintah saat ini. Dicontohkannya seperti pembangunan desa wisata yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Di mana program itu cukup sulit untuk memberikan dampak yang sama secara merata di seluruh NTB.

‘’Misalnya kita bangun desa wisata di Bima, agak susah juga orang ke sana walaupun bagus. Karena jauh dan akomodasi ke sana mahal. Ini hal-hal yang harus dipikirkan. Ketika menonjolkan sesuatu, harus ada hal-hal luar biasa yang disiapkan,’’ ujar Firmansyah.

Selain itu, menurut Firmansyah bahwa dalam proses mendatangkan modal, pemerintah saat ini belum memanfaatkan secara maksimal potensi pengusaha lokal yang dimiliki NTB. Padahal hal tersebut dinilai memiliki satu kelebihan, yaitu tingkat kepercayaan mengingat komunikasi akan lebih mudah dilakukan jika investor tersebut memiliki kedekatan dan berada di lokasi bisnis yang cenderung lebih dekat.

  Telkomsel Pastikan 82 Persen Jaringan Telekomunikasi di Bima Normal

Untuk memaksimalkan pembangunan sekaligus mengisi beberapa kekurangan tersebut, Firmansyah menerangkan pemerintah saat ini dapat mengadopsi konsep triple helix, yaitu konsep sinergi populer di mana komunikasi antara pemerintah, universitas dan industri menjadi satu untuk memberikan kontribusi positif. ‘’Sekarang bagaimana cara kita mendesain itu di NTB,’’ ujarnya.

Firmansyah menambahkan bahwa seluruh program Pemprov NTB saat ini masih dapat ditingkatkan. Misalnya didirikannya pabrik minyak kayu putih terbesar di NTB yang gaungnya masih bisa ditingkatkan untuk memberikan dampak lebih menyeluruh untuk kegiatan bisnis antar kabupaten/kota di NTB atau kabupaten/kota dengan provinsi.

Hal tersebut diterangkan membutuhkan kelembagaan khusus untuk mensinergikan empat aspek. Yaitu aspek produksi, distribusi, komersialisasi, dan pasar. ‘’Kita sering sekali gagal di (pembentukan) pasar. Kita membangun bagus, produksi bagus tapi pasarnya ini kita (kadang belum) pikirkan,’’ ujar Dosen Ekonomi Bisnis di Universitas Mataram tersebut.

Salah satu wacana yang disebut cukup menarik untuk mewujudkan sebaran pembangunan yang merata adalah wacana pembuatan jembatan Lombok-Sumbawa. Dimana jembatan tersebut diterangkan Firmansyah akan dapat memicu perputaran sekaligus menghilangkan sekat-sekat yang membatasi pasar saat ini. ‘’Yang paling penting pembicaraan kita bagaimana Pemprov dan Pemda Kabupaten/Kota merancang institusional kelembagaannya. Supaya tahun depan mulai kelihatan masing-masing kabupaten/kota mulai hidup dengan perencanaan (pembangunan) yang ada,” ujarnya. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here