Pembangunan KIHT Dukung Program Industrialisasi Tembakau

Bangunan baru Pasar Paok Motong Lombok Timur.(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Mendukung program unggulan industrialisasi, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)  siap membangun Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di lahan eks Pasar Paok Motong, Kecamatan Masbagik Lombok Timur.

Selain itu, Pemprov juga segera membangun terminal angkutan tipe B untuk angkutan antar kabupaten dalam Provinsi.

Iklan

Kedua rencana pembangunan infrastruktur pada tahun ini dinilai sangat strategis untuk pengembangan ekonomi. Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah NTB, H. L. Gita Ariadi terkait kepastian pembangunan kedua fasilitas ini.

Dikatakan Gita, sapaan akrabnya, prosesnya sedang dikerjakan bersama Pemkab Lotim. “Tinggal menyelesaikan administrasi aset karena anggarannya sudah ada untuk KIHT,” ujar Sekda di kantor Gubernur belum lama ini.

Anggaran 15 miliar untuk KIHT tinggal digunakan dan harus terbangun tahap pertama tahun ini jika telah sesuai dengan aturan. Terkait lokasi terminal, Pemprov NTB menyarankan lokasi harus sesuai dengan manajemen transportasi agar termanfaatkan dengan maksimal.

Saat ini, Pemprov NTB mulai merencanakan untuk menata kembali eks Pasar Paokmotong tersebut. Pasalnya  di lokasi tersebut bakal dibangun pabrik yang menjadi pusat pengolahan tembakau rajang. Pembangunan ini direncanakan mulai dibangun tahun ini.

Pemprov NTB diketahui segera akan membangun Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Eks Pasar Paokmotong Lombok Timur. Pembangunan KIHT merupakan salah satu upaya meminimalisir peredaran rokok ilegal di NTB.

“Dengan adanya KIHT diharapkan dapat meningkatkan perekonomian daerah,” kata Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Ir. Muhammad Husni, M.Si.

Husni menjelaskan tujuan pembangunan KIHT yaitu, menarik pabrik-pabrik rokok lokal atau UMKM yang ilegal untuk mendapatkan pembinaan. Selain dibina pengembangan usaha, perusahaan rokok lokal juga dibina bagaimana proses perizinan lengkap di KIHT.

Pembangunan KIHT menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi menambahkan, tembakau Lombok sangat digemari dan Lombok menjadi penghasil tembakau kedua terbanyak dari 11 Provinsi sebesar 23 persen setelah Jawa Timur sebesar 43 persen.

Diharapkan dengan KIHT dapat meningkatkan kualitas Hasil Tembakau para petani yang ada. Sehingga seperti produk Hasil Tembakau unggulan yaitu “Tembakau Senang”  yang mampu memproduksi rokok atau cerutu di NTB tanpa mengirimkan keluar pulau untuk diolah lebih lanjut.

Dengan upaya peningkatan kualitas ini akan meningkatkan daya jual dan konsumen tembakau Lombok semakin banyak sehingga mendorong pemulihan ekonomi nasional dari sektor Tembakau.

Hal ini dikemukakan, Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian Lotim, Marepudin. Dikatakannya, saat ini Dinas Pertanian (Distan) Lotim masih menunggu dua toko yang belum menyelesaikan Hak Guna Pakai (HGP) di lokasi tersebut. Apabila rencana ini terwujud tanpa adanya kendala, maka tempat pengolahan tembakau rajangan ini akan menjadi yang pertama di Provinsi NTB.

“Sesuai dengan rencana, pabrik pengolahan tembakau akan mulai dibangun tahun ini. Saat ini sedang dilaksanakan tender. Kita sudah siap mempunyai produk rokok sendiri, sehingga ke depan kita mempunyai dua sumber PAD yakni dari pengolahan dan produksi,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, berdirinya tempat pengolahan tembakau itu, nantinya dapat membantu para petani tembakau rajangan yang ada di Lotim. Distan Lotim bersama dengan provinsi akan menyusun lebih dalam mengenai pedoman pelaksanaan pengolahannya ketika pembangunannya sudah rampung. (tim) 

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional