Pembangunan Jembatan Bailey Tampes Tertunda

Kondisi Jembatan Tampes yang rusak akibat banjir, Jumat, 21 Februari 2020. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Balai Jalan Nasional Wilayah IX NTB, hingga Minggu, 23 Februari 2020 kemarin belum melakukan perbaikan jembatan di jalur jalan nasional Dusun Tampes, Desa Selengen Kecamatan Kayangan. Rencana pengalihan jalur dengan membangun jembatan Bailey (sementara) disebut-sebut tertunda.

Kepala Dusun Tampes, Multazam kepada koran ini mengaku, belum ada aktivitas sejak jembatan lama putus akibat banjir bandang, Jumat, 21 Februari 2020 dini hari. Warga mendapat informasi, jika material baja yang dikirim untuk jembatan tidak cocok.

Iklan

“Belum mulai, sampai hari ini (kemarin) masih tidak ada aktivitas. Informasi yang kami peroleh, pihak yang mengerjakan sudah meminjamkan material dari Surabaya. Tetapi karena pondasi beronjong jembatan tidak layak, akhirnya ditunda,” ujar Multazam.

Dijelaskan Kadus Tampes, awal pengerjaan jembatan Bailey pascaputus 1 Januari lalu, terkendala kesepakatan sewa lahan warga. Ketika itu, tidak ada penyelesaian dari Pemda Lombok Utara. Kesepakatan sewa lahan (jalur baru) baru tercapai pada mediasi, Jumat, 21 Februari 2020.

Namun demikian, kata dia, pihak Balai Jalan Wilayah IX telah memulai membuat pondasi beronjong Jembatan Bailey di bagian hulu jembatan yang rusak. Hanya saja, ketinggian pondasi dikabarkan tidak sesuai.

“Pondasi beronjong harusnya ditinggikan lagi. Tapi kalau dibuat lebih tinggi, khawatirnya saat pemasangan plat baja kabel listrik nyangkut,” sambungnya.

Di sisi lain, material besi baja yang didatangkan dan menumpuk di sebelah masjid darurat Tampes, menganggur. Material itu sejatinya sudah dirakit untuk dipasang. Hanya saja, manuver alat berat saat pemasangan diyakini mengganggu prasarana listrik PLN. “Masih dipikirkan cara mengatasinya, karena katanya akan mengganti material,” imbuhnya.

Menurut Kadus Tampes, akan memerlukan waktu bagi masyarakat untuk bisa melewati jalur tersebut. Jika berpatokan pada penggantian material, waktu pengiriman sampai ke lokasi bisa memakan waktu. Sebab, besi baja yang didatangkan sebelumnya harus menunggu waktu sampai 1 bulan. “Kita berharap akses ini bisa cepat dicarikan solusinya. Karena untuk lahan sendiri sudah tidak ada masalah,” tandasnya.

Pada bagian lain, pihak Balai Jalan Nasional yang coba dikonfirmasi Suara NTB belum memberikan respons. Beberapa kali coba dihubungi juga tidak menjawab. (ari/bul)