Pembangunan Huntap Tahan Gempa Tak Perlu Uji Lab

Wagub NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Pembangunan hunian tetap (Huntap) tahan gempa tak perlu lagi harus dilakukan uji laboratorium. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pembangunan Huntap bagi korban gempa yang masih cukup lamban.

Dengan percepatan pembangunan Huntap diharapkan puluhan ribu  masyarakat korban gempa yang masih mengungsi dapat segera kembali ke rumahnya masing-masing.

Iklan

‘’Itu kemarin Pak Gub rapat dengan Menko PMK. Disampaikan bahwa yang penting tahan gempa, jangan pakai uji-uji lab,’’ kata Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Selasa, 13 November 2018.

Diketahui, saat ini ada tiga jenis rumah tahan gempa sesuai rekomendasi Kementerian PUPR yang boleh dibangun untuk masyarakat korban gempa. Yakni, Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha), Rumah konvensional (Riko) dan Rumah Kayu (Rika).

Belakangan ada lagi rumah yang dinilai tahan gempa yakni Rumah Instan Baja (Risba). Tetapi pembangunan Risba untuk korban gempa terkendala karena masih dilakukan uji lab oleh Litbang Kementerian PUPR.

Menurut Wagub, Huntap yang dibangun untuk korban gempa yang penting sesuai struktur. Tidak perlu menunggu hasil uji lab yang dilakukan Kementerian PUPR. Ia mempersilakan masyarakat membangun Huntap sesuai minat, yang penting struktur bangunan diperhatikan.

‘’Kalau membangun sesuai struktur kan tahan gempa. Tidak akan roboh,’’ kata Wagub.

Tiga bulan pascagempa, sebanyak 75.815 masyarakat masih mengungsi. Jumlah pengungsi sebanyak itu tersebar di tujuh kabupaten/kota terdampak bencana gempa bumi. Sementara itu, hunian sementara yang sudah terbangun baru  39.811 unit. Masih ada kekurangan sebanyak 34.281 unit huntara dari kebutuhan sebanyak 74.092 unit.

Sebanyak 75.815 masyarakat yang mengungsi tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa. Untuk Pulau Lombok, berada di Kota Mataram 12.710 jiwa, Lombok Utara 42.223 jiwa, Lombok Barat 14.254 jiwa, Lombok Tengah 2.243 jiwa dan Lombok Timur 3.073 jiwa.

Sedangkan yang ada di Pulau Sumbawa terdapat di dua kabupaten terdampak. Yakni Sumbawa  dan Sumbawa Barat sebanyak 1.312 pengungsi. Terkait dengan progres pembangunan huntara, hingga saat ini sudah terbangun 39.811 unit. Tersebar di Lombok Utara 31.533 unit, Lombok Barat 1.967 unit, Lombok Timur 3.453 unit, Lombok Tengah 461 unit, Kota Mataram 265 unit, Sumbawa 993 unit dan Sumbawa Barat 1.139 unit.

Masih ada kekurangan sebanyak 34.281 unit Huntara. Seperti Lombok Utara masih kekurangan 12.481 unit, Lombok Barat 11.975 unit, Lombok Timur 3.203 unit, Lombok Tengah 2.423 unit, Kota Mataram 2.131 unit, Sumbawa dan Sumbawa Barat masing-masing 1.176 unit dan 101 unit.

‘’Huntara terus kita dorong. Semua pihak memperhatikan itu terutama Pemda kabupaten/kota, betul-betul dilihat warganya yang mana belum punya Huntara,’’ Wagub mengingatkan.

Sementara itu, progres pembangunan Huntap masih sedikit dibandingkan jumlah rumah warga yang rusak. Saat ini sebanyak 542 Risha sedang dibangun. Kemudian Rika 91 unit dan Riko 190 unit. (nas)