Pembangunan Fisik dan Sosial Tak Seimbang Picu Maraknya Kasus Asusila di NTB

Mataram (suarantb.com) – Kasus pemerkosaan bapak terhadap anak kandung yang terjadi di Lombok Timur dinilai sebagai dampak pembangunan fisik yang tidak diimbangi dengan pembangunan sosial. Perkembangan teknologi dan komunikasi yang tidak diimbangi kesiapan mentalitas masyarakat disebut menjadi persoalan lain sering terjadinya kasus asusila di daerah ini.

Hal tersebut dikatakan Anggota Komisi V DPRD NTB, Drs. H. Abdul Karim, MM, Jumat 7 September 2016. “Dampak pembangunan, media sosial internet yang terlalu gampang diakses. Tanpa ada kesiapan, tanpa filter. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.

Iklan

Hal tersebut, lanjut Karim menjadi salah satu indikator bahwa pembangunan kemanusiaan di NTB sangat mengkhawatirkan. Untuk itu, lanjut Politisi asal Kota Mataram ini, pemerintah sebagai pelayan masyarakat harus segera mencari solusi atas kondisi itu. Bagaimanapun, masyarakat sebagai obyek pembangunan harus mendapat manfaat darinya, bukan hanya menerima dampak negatif.

“Jangan hanya kecerdasan intelektual yang dibangun, tapi kecerdasan spiritual tidak pernah diperhatikan,” katanya.

Karim mengingatkan, kejadian asusila tak wajar, seperti hubungan sedarah antara bapak dan anak yang terjadi baru-baru ini di Lombok Timur merupakan kejadian luar biasa yang telah mencoreng citra NTB sebagai provinsi yang kental dengan nuansa religius. Untuk  itu, harus segera mendapat solusi guna menghindari dampak lebih luas.

Semakin banyaknya tindakan amoral di tengah masyarakat NTB merupakan peristiwa yang  ironi  di daerah yang menyandang predikat pulau seribu masjid. Serta  banyaknya pondok pesantren dan ulama.

“Ironis, padahal di sana  kan banyak ulama besar,” tambahnya.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu, seorang bapak di Kecamatan Terara Lombok Timur tega memperkosa putri kandungnya yang berusia 19 tahun hingga hamil dan melahirkan. Parahnya, hal tersebut telah dilakukannya selama enam tahun, semenjak anaknya  baru 13 tahun. (ast)