Pemanfaatan Pabrik Pupuk dan Sentra IKM Poto Tano Dinilai Mundur

Rombongan Komisi II DPRD KSB saat mengunjungi pabrik pupuk organik Poto Tano.(Suara NTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Upaya Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam mengoptimalkan pemanfaatan pabrik pupuk organik dan Sentra IKM yang ada di kecamatan Poto Tano mengalami kemunduran.

“Dari hasil tinjauan lapangan kami kemarin (Rabu). Kami bisa menyimpupkan bahwa ada kemunduran yang dilakukan Perindagkop dalam mengupayakan pabrik pupuk dan Sentra IKM itu,” cetus ketua Komisi II DPRD KSB, Aheruddin Sidik kepada Suara NTB, Kamis, 21 Januari 2021.

Iklan

Kesimpulan kemunduruan itu, menurut Aheruddin dapat dilihat dari target pemanfaatan kedua fasilitas milik pemerintah itu. Menurut dia, pada pabrik pupuk misalnya. Sebelumnya Dinas Perindagkop menargetkan di tahun 2020 lalu akan ada pihak ketiga yang akan mulai mengoperasikannya. Namun faktanya, saat ini pabrik yang dibangun sekitar tahun 2015 lalu itu justru dioperasikan oleh dinas bersangkutan. “Alasan dinas, katanya pihak ketiga yang dulu berminat mengelola undur diri karena Covid,” bebernya.

Demikian pula dengan Sentra IKM Poto Tano. Aher mengungkapkan, lagi-lagi alasan dinas, bahwa pihak yang berminat mengelolanya sementara ini baru melakukan persiapan. “Ini sebenarnya sudah ditarget sejak 2019. Tapi tertunda juga katanya dengan alasan Covid,” sesalnya.

Bagi politisi PKP Indonesia ini, alasan yang diungkapkan oleh Dinas Perinsagkop itu terlalu lemah. Mengingat target pemanfatan kedua fasilitas pemerintah yang diharap menjadi salah satu sumber penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) itu sudah diwacanakam jauh-jauh hari. “Setahun bahkan ada yang 2 tahun jalan di tempat. Apalagi ada perubahan dari rencana awal kan ini sebuah kemunduran menurut kami,” tandasnya.

Aher melanjutkan, seharusnya SKPD baik yang terkait langsung dengan kedua fasilitas teraebut maupun tidak, dapat segera merubah startegi jika menemukan kendala di tengah jalan. Bukan sebaliknya, seolah-olah menyerah dan pada akhirnya target yang ditetapkan tidak tercapai. “Kami lihat lambat juga dinas teknis berimprovisasi,” sebutnya seraya menambahkan, pihaknya sedikit mengapresiasi upaya mengelola sendiri pabrik pupuk organik oleh Dinas Perindagkop.

“Kami apresiasi ya karena walau keluar jalur solusinya itu. Tapi ya jangan sampai seterusnya karena pabrik itu baru bisa optimal kalau diserahkan ke pihak ketiga,” tandas Aher.(bug)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional