Pelimpahan Tahap Dua Kasus Benih Jagung 2017, JPU Lanjutkan Penahanan Empat Tersangka

Direktur PT Sinta Agro Mandiri Aryanto Prametu (kiri) dan mantan Kadis Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB Husnul Fauzi, Rabu, 4 Agustus 2021 berjalan menuju mobil tahanan usai menjalani pelimpahan tahap dua kasus pengadaan benih jagung tahun 2017 yang merugikan negara Rp27,35 miliar.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Jaksa penuntut umum melanjutkan penahanan empat tersangka kasus pengadaan benih jagung tahun anggaran 2017. Para tersangka ini menjalani pelimpahan tahap dua dari jaksa penyidik, Rabu, 4 Agustus 2021. Mereka diajukan ke pengadilan pekan depan.

Para tersangka ini, mantan Kadis Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB Husnul Fauzi; pejabat pembuat komitmen I Wayan Wikayana; Direktur PT Sinta Agro Mandiri Aryanto Prametu; dan Direktur PT Wahana Banu Sejahtera Lalu Ikhwan Hubi. Mereka dibawa dengan mobil tahanan ke Kejari Mataram sekitar pukul 10.00 Wita. Keperluannya menyelesaikan proses administrasi pelimpahan tersangka dan barang bukti. Pelimpahan ini menandai kasus yang mulai ditangani di tahap penuntutan.

Iklan

“Penahanan tersangka tetap dilanjutkan untuk 20 hari ke depan,” ucap Kepala Kejari Mataram Yusuf mengonfirmasi pelimpahan tersebut. Para tersangka ini kemudian dibawa kembali ke sel tahanan. Tersangka Husnul, Wikanaya, dan Ikhwan dititipkan kembali ke Rutan Polda NTB. Sementara Aryanto ke Rutan Polresta Mataram.

Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan menjelaskan, tim jaksa penuntut umum sudah menyelesaikan rencana dakwaan untuk dilimpahkan ke pengadilan. “Dalam waktu dekat kita limpahkan agar segera disidangkan,” terangnya. Terpisah, penasihat hukum Ikhwan, Kurniadi mengaku kliennya kooperatif menjalani seluruh rangkaian penyidikan. Sampai akhirnya kini dilimpahkan ke jaksa penuntut umum. “Untuk materi perkaranya, kita sudah siapkan pembelaan sesuai fakta-fakta yang ada. Nanti kita ungkap di persidangan,” ujarnya.

Modus korupsi kasus ini, para tersangka diduga terlibat pengaturan proyek. Rekanan pelaksana ditunjuk. Kemudian, benih yang disalurkan tidak sesuai spesifikasi. Benih jagung yang didatangkan dari Jawa Timur ini bersertifikat palsu, menggunakan sertifikat duplikat, dan sertifikat bodong. Kerugian negaranya berdasarkan hasil audit BPKP Perwakilan NTB sebesar Rp27,35 miliar. Dari pengadaan PT Sinta Agro Mandiri yang mendapat kontrak Rp17,25 miliar, kerugian negara yang timbul Rp15,43 miliar. Pekerjaan pengadaan benih yang terlaksana hanya Rp1,82 miliar.

Kemudian, dari pengadaan PT Wahana Banu Sejahtera yang mendapat kontrak senilai Rp31 miliar. Kerugian negaranya mencapai Rp11,92 miliar. Prestasi dari kontrak pengadaannya Rp19,08 miliar. (why)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional